KUDUS. liputankudus.id – Lubang menganga di ruas Jalan Raya Kudus-Colo, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kembali menimbulkan persoalan. Kali ini, seorang pengendara asal Desa Colo menjadi korban setelah sepeda motornya terperosok saat melintas pada malam hari.
Korban berinisial LRD (29). Ia mengalami patah tulang pada tangan kiri dan cedera pada bagian rahang setelah terjatuh di sekitar utara Indomaret Kajar, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Saat itu LRD sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumahnya di Desa Colo. Kondisi jalan yang minim penerangan membuat lubang sulit dikenali dari jarak aman.
“Saya pulang kerja menuju Colo. Sampai di Kajar sekitar jam tujuh malam, penerangannya tidak terlalu terang. Lubangnya tidak kelihatan. Tiba-tiba motor saya masuk lubang, saya kaget dan langsung jatuh,” ujar LRD saat di temui.
Benturan membuat LRD mengalami cedera cukup serius. Warga yang berada di sekitar lokasi kemudian memberikan pertolongan sebelum korban dibawa menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan pertama.
“Waktu jatuh saya langsung dibantu warga. Alhamdulillah masih ada yang menolong dan segera dibawa pakai ambulans. Tangan kiri saya patah, rahang juga cedera,” katanya.
Menurut LRD, kondisi lubang menjadi jauh lebih berbahaya ketika malam. Pengendara yang tidak mengetahui adanya kerusakan akan sulit melakukan antisipasi, terlebih ketika kendaraan melaju dalam kondisi normal dan tiba-tiba berhadapan dengan lubang.
“Kalau dari jauh memang tidak kelihatan. Begitu sudah dekat baru tahu ada lubang. Kalau tidak sempat menghindar ya bisa seperti saya, jatuh,” ucapnya.
Suami LRD, Andi, meminta pihak terkait segera mengecek titik kerusakan tersebut. Ia berharap perbaikan tidak menunggu sampai jumlah korban bertambah.
Andi juga menyoroti tidak adanya papan peringatan atau penanda di sekitar lokasi. Menurut dia, bila perbaikan belum dapat dilakukan segera, pengamanan sementara semestinya bisa menjadi langkah awal untuk melindungi pengguna jalan.
“Kalau memang belum bisa langsung diperbaiki, setidaknya diberi tanda. Tidak harus menunggu perbaikan selesai baru memikirkan keselamatan pengendara. Pasang papan peringatan atau penanda agar orang yang lewat tahu ada lubang di depan dan bisa mengurangi kecepatan,” kata Andi.
Ia menilai, lubang di jalan mungkin terlihat sebagai persoalan kecil ketika dilihat dari sisi kerusakan aspal. Namun bagi pengendara yang melintas malam hari tanpa mengetahui keberadaannya, lubang tersebut bisa berubah menjadi titik kecelakaan.
“Yang lewat tidak mungkin tahu kalau di depannya ada lubang kalau tidak diberi tanda. Jangan sampai orang baru sadar setelah terperosok. Jalan rusak itu bisa diperbaiki, tetapi kalau sudah ada korban, akibatnya tidak bisa dikembalikan seperti semula,” ujarnya.
Andi berharap petugas terkait segera datang melihat kondisi jalan, melakukan perbaikan, atau setidaknya memasang penanda keselamatan sebelum penanganan permanen dilakukan.
“Kami berharap segera ditangani. Jangan menunggu ada korban lain. Kami sudah merasakan sendiri akibatnya. Semoga kejadian ini cukup satu kali dan tidak terulang pada pengendara lain,” kata Andi.
Kerusakan tersebut menjadi perhatian karena ruas Kudus-Colo merupakan jalur yang digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari. Kondisi lubang yang sulit terlihat pada malam hari membuat kewaspadaan pengendara saja tidak selalu cukup tanpa dukungan penerangan dan penanda keselamatan di titik kerusakan.


