KUDUS. liputankudus.id – Tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk upacara besar, bunyi gamelan, maupun pertunjukan yang sarat simbol. Di Kampung Budaya Cabean, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tradisi justru tumbuh dari aktivitas sederhana yang dilakukan masyarakat sehari-hari, salah satunya pembuatan genteng.
Pengetahuan tentang membuat genteng diwariskan secara turun-temurun melalui praktik dan kebiasaan. Mulai dari mengambil tanah liat, mengairi, meremas hingga mendapatkan tekstur yang sesuai, mencetak, menjemur, hingga proses akhir berupa digobong atau dibakar.
Tidak ada ukuran baku yang tertulis mengenai tingkat kelembapan tanah, lama penjemuran, maupun intensitas api. Para perajin mengandalkan pengalaman, rasa, dan intuisi yang terbentuk dari proses panjang.
Namun, perubahan zaman membuat pekerjaan tersebut semakin jauh dari generasi muda. Kondisi itu bukan hanya mengancam keberlangsungan mata pencaharian, tetapi juga pengetahuan lokal yang melekat di dalamnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Kampung Budaya Cabean bersama tim Serah menghadirkan Tari Gobong dalam gelaran Serah#9. Program yang digagas sejak 2017 itu mengangkat tema "Merawat Tradisi Merayakan Kreasi".
Tari Gobong mengalihbahasakan proses pembuatan genteng ke dalam gerak tubuh. Kata "gobong" sendiri merujuk pada aktivitas membakar genteng sekaligus ruang tungku yang digunakan dalam proses tersebut.
Melalui karya seni, tradisi pembuatan genteng tidak ditempatkan sekadar sebagai peninggalan masa lalu. Sebaliknya, proses tersebut ditafsirkan kembali menjadi karya yang dapat dikenali dan dimaknai oleh masyarakat masa kini.
Produser Serah, Dian Puspitasari, menekankan pentingnya membangun ekosistem seni dari fondasi paling dasar, yakni manusia. Menurutnya, penguatan sumber daya manusia dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting sebelum berbicara mengenai pembangunan fisik seperti panggung maupun ruang pamer.
Pertunjukan Seni Tari Gobong dalam Serah#9 akan digelar pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 19.00 WIB, bertempat di Kampung Budaya Cabean, Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Pertunjukan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi dan kreativitas. Proses membuat genteng yang selama ini berlangsung dalam keseharian masyarakat diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh dan seni pertunjukan.
Pada akhirnya, menjaga tradisi bukan semata-mata mempertahankan bentuk lama. Lebih dari itu, menjaga tradisi berarti mempertahankan pengetahuan, pengalaman, serta ingatan yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui Tari Gobong, jejak tanah, jemari perajin, panasnya tungku, dan pengalaman panjang membuat genteng diharapkan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap memiliki ruang untuk dimaknai oleh generasi berikutnya.


