• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    PUPR Kudus Kebut Infrastruktur Kemantapan Jalan Tembus 94 Persen

    Noer
    7/24/26, 14:56 WIB Last Updated 2026-07-24T07:56:44Z

     

    PUPR Kudus Kebut Infrastruktur untuk terus memperkuat konektivitas antarwilayah melalui pembangunan dan rehabilitasi jembatan serta peningkatan kualitas jalan.(Foto: Noer*)

    KUDUS, liputankudus.id – Pemerintah Kabupaten Kudus terus memperkuat konektivitas antarwilayah melalui pembangunan dan rehabilitasi jembatan serta peningkatan kualitas jalan. Hingga pertengahan 2026, tingkat kemantapan jalan kabupaten mencapai 94,01 persen, naik dibanding sebelumnya sebesar 91,29 persen.

     

    Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Supriyadi mengatakan peningkatan tersebut ditopang oleh sejumlah pekerjaan fisik yang saat ini tengah berjalan, termasuk pembangunan enam jembatan di berbagai wilayah.

     

    "Dari total panjang jalan kabupaten sekitar 580 kilometer, saat ini tidak ada lagi jalan dengan kategori rusak berat. Yang masih tersisa hanya kerusakan sedang sepanjang sekitar 34,8 kilometer," kata Supriyadi.

     

    Menurut dia, berdasarkan klasifikasi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), ruas jalan yang masuk kategori rusak ringan maupun rusak sedang masih tergolong jalan mantap sehingga tetap dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

     

    Tahun ini Bidang Bina Marga mengelola 18 paket pekerjaan jalan dengan total anggaran sekitar Rp28 miliar. Paket tersebut terdiri atas 13 pekerjaan peningkatan, rehabilitasi, dan pemeliharaan jalan serta lima paket pembangunan talud, dengan total penanganan sekitar 8 kilometer ruas jalan.

     

    Selain itu, PUPR juga mengalokasikan sekitar Rp7,5 miliar untuk pemeliharaan rutin jalan agar kondisi ruas yang telah mantap tetap terjaga.


     

    Di sektor jembatan, pemerintah menangani enam proyek pembangunan dan rehabilitasi. Salah satu yang saat ini dikerjakan adalah Jembatan Karangmalang-Peganjaran yang dibangun menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dengan nilai kontrak Rp772.655.185.

     

    Jembatan tersebut dibangun ulang karena konstruksi lama berbahan pasangan bata mengalami kerusakan dan tidak lagi dapat dilalui kendaraan roda empat.

     

    "Struktur lama kami ganti menggunakan box culvert beton bertulang sehingga lebih kuat dan lebih aman. Bentangnya juga diperbesar agar nantinya dapat melayani lalu lintas dua arah," ujarnya.

     

    Pekerjaan yang dimulai pada 29 Juni 2026 itu dijadwalkan selesai pada 26 Oktober 2026. Namun hingga kini progres fisik telah melampaui target dengan capaian lebih dari 9 persen atau memiliki deviasi positif sekitar lima persen.

     

    "Kalau kondisi tetap mendukung, pekerjaan tidak menutup kemungkinan selesai dalam waktu sekitar dua bulan," katanya.


     

    Selain Jembatan Karangmalang-Peganjaran, PUPR juga mengerjakan pembangunan Jembatan Rahtawu-Semliro dan Kesambi-Jojo. Sementara rehabilitasi dilakukan di Lambangan, Medini, dan Gringging.

     

    Menurut Supriyadi, penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing jembatan. Di Lambangan, rehabilitasi dilakukan akibat penurunan struktur. Di Gringging, jembatan mengalami gerusan aliran sungai sekaligus memiliki lebar yang tidak lagi memadai. Sedangkan di Rahtawu, jembatan diperlebar dan struktur abutmennya diperkuat dari pasangan batu kali menjadi beton bertulang.

     

    Selama pembangunan Jembatan Rahtawu berlangsung, PUPR juga menyediakan jembatan darurat agar mobilitas masyarakat tetap berjalan.

     

    "Harapannya, seluruh proyek ini tidak hanya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga memperkuat konektivitas antarwilayah sehingga aktivitas ekonomi masyarakat semakin lancar," kata Supriyadi.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler