![]() |
| PUPR Kudus Kebut Infrastruktur untuk terus memperkuat konektivitas antarwilayah melalui pembangunan dan rehabilitasi jembatan serta peningkatan kualitas jalan.(Foto: Noer*) |
KUDUS, liputankudus.id – Pemerintah Kabupaten Kudus terus memperkuat konektivitas antarwilayah melalui pembangunan dan rehabilitasi jembatan serta peningkatan kualitas jalan. Hingga pertengahan 2026, tingkat kemantapan jalan kabupaten mencapai 94,01 persen, naik dibanding sebelumnya sebesar 91,29 persen.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Supriyadi mengatakan peningkatan tersebut ditopang
oleh sejumlah pekerjaan fisik yang saat ini tengah berjalan, termasuk
pembangunan enam jembatan di berbagai wilayah.
"Dari total panjang jalan kabupaten sekitar 580
kilometer, saat ini tidak ada lagi jalan dengan kategori rusak berat. Yang
masih tersisa hanya kerusakan sedang sepanjang sekitar 34,8 kilometer,"
kata Supriyadi.
Menurut dia, berdasarkan klasifikasi Balai Pelaksanaan Jalan
Nasional (BPJN), ruas jalan yang masuk kategori rusak ringan maupun rusak
sedang masih tergolong jalan mantap sehingga tetap dapat memberikan pelayanan
kepada masyarakat.
Tahun ini Bidang Bina Marga mengelola 18 paket pekerjaan
jalan dengan total anggaran sekitar Rp28 miliar. Paket tersebut terdiri atas 13
pekerjaan peningkatan, rehabilitasi, dan pemeliharaan jalan serta lima paket
pembangunan talud, dengan total penanganan sekitar 8 kilometer ruas jalan.
Selain itu, PUPR juga mengalokasikan sekitar Rp7,5 miliar
untuk pemeliharaan rutin jalan agar kondisi ruas yang telah mantap tetap
terjaga.
Di sektor jembatan, pemerintah menangani enam proyek pembangunan
dan rehabilitasi. Salah satu yang saat ini dikerjakan adalah Jembatan
Karangmalang-Peganjaran yang dibangun menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil
Tembakau (DBHCHT) dengan nilai kontrak Rp772.655.185.
Jembatan tersebut dibangun ulang karena konstruksi lama
berbahan pasangan bata mengalami kerusakan dan tidak lagi dapat dilalui
kendaraan roda empat.
"Struktur lama kami ganti menggunakan box culvert beton
bertulang sehingga lebih kuat dan lebih aman. Bentangnya juga diperbesar agar
nantinya dapat melayani lalu lintas dua arah," ujarnya.
Pekerjaan yang dimulai pada 29 Juni 2026 itu dijadwalkan
selesai pada 26 Oktober 2026. Namun hingga kini progres fisik telah melampaui
target dengan capaian lebih dari 9 persen atau memiliki deviasi positif sekitar
lima persen.
"Kalau kondisi tetap mendukung, pekerjaan tidak menutup
kemungkinan selesai dalam waktu sekitar dua bulan," katanya.
Selain Jembatan Karangmalang-Peganjaran, PUPR juga
mengerjakan pembangunan Jembatan Rahtawu-Semliro dan Kesambi-Jojo. Sementara
rehabilitasi dilakukan di Lambangan, Medini, dan Gringging.
Menurut Supriyadi, penanganan dilakukan sesuai kondisi
masing-masing jembatan. Di Lambangan, rehabilitasi dilakukan akibat penurunan
struktur. Di Gringging, jembatan mengalami gerusan aliran sungai sekaligus
memiliki lebar yang tidak lagi memadai. Sedangkan di Rahtawu, jembatan
diperlebar dan struktur abutmennya diperkuat dari pasangan batu kali menjadi
beton bertulang.
Selama pembangunan Jembatan Rahtawu berlangsung, PUPR juga
menyediakan jembatan darurat agar mobilitas masyarakat tetap berjalan.
"Harapannya, seluruh proyek ini tidak hanya
meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga memperkuat
konektivitas antarwilayah sehingga aktivitas ekonomi masyarakat semakin
lancar," kata Supriyadi.




