• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    UMKM Demak Diminta Punya Growth Mindset

    Any Firgiyanti
    7/23/26, 12:46 WIB Last Updated 2026-07-23T05:46:40Z




    DEMAK. Liputankudus.id. – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P2PA) Kabupaten Demak bersama Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) Demak memperkuat kapasitas penerima bantuan sosial produktif melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Ekonomi Masyarakat.

    ‎Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan penerima manfaat program Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

    ‎Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinsos Provinsi Jawa Tengah, Elliya Ch mengatakan bimtek menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pendampingan setelah bantuan usaha disalurkan kepada masyarakat.

    ‎"Kegiatan Bimtek Pengembangan Ekonomi Masyarakat dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah ditujukan untuk memberikan bimbingan dan pelatihan kepada penerima bantuan sosial UEP maupun KUBE yang dialokasikan di Kabupaten Demak. Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pemantapan terhadap bantuan yang telah diterima sehingga mampu dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.

    ‎Elliya berharap program tersebut dapat mendorong masyarakat keluar dari kemiskinan melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.

    ‎"Kami berharap masyarakat Jawa Tengah bisa keluar dari kemiskinan, meningkatkan pendapatan, dan kesejahteraannya semakin baik melalui pengembangan usaha produktif," katanya.

    ‎Ia menjelaskan, khusus Kabupaten Demak pada tahun 2026 dialokasikan bantuan untuk 32 kelompok KUBE dan 28 penerima UEP dengan total anggaran mencapai Rp 710 juta.

    ‎Sementara itu, Ketua HIPKA Demak, Sodikin, menilai keberhasilan pelaku UMKM lebih banyak ditentukan oleh mental dibanding besarnya modal usaha.


    ‎"Sekitar 90 persen UMKM gagal bukan karena kekurangan modal, tetapi karena mental wirausahanya sudah menyerah lebih dulu. Modal bisa dicari dan ilmu bisnis dapat dipelajari, tetapi ketika mental sudah menyerah sejak awal, usaha akan sulit berkembang," katanya.

    ‎Menurut Sodikin, kewirausahaan bukan bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan kemampuan yang dibentuk melalui proses belajar, pengalaman, dan komitmen yang kuat. Ia mengajak para pelaku usaha agar berani memulai dari nol serta mampu melihat peluang dari persoalan yang dihadapi masyarakat.

    ‎Selain memiliki keberanian, pelaku usaha juga dituntut memiliki pola pikir berkembang (growth mindset), ketangguhan menghadapi kegagalan (resilience), serta kemampuan beradaptasi (adaptability) agar mampu bertahan menghadapi perubahan.

    ‎Di sisi lain, Plt Kepala Dinsos P2PA Kabupaten Demak, Agus Herawan, mengatakan program UEP dan KUBE menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam menekan angka kemiskinan yang masih mencapai 10,87 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Jawa Tengah maupun nasional.

    ‎"Kondisi wilayah pesisir seperti Sayung, Bonang, Wedung, dan Karangtengah yang kerap terdampak rob menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis usaha. Bantuan harus diarahkan pada usaha yang adaptif terhadap kondisi wilayah sehingga mampu bertahan dan berkembang," ujarnya.

    ‎Agus menegaskan bantuan tersebut merupakan modal usaha produktif, bukan bantuan konsumtif. Karena itu, pencairan dilakukan dengan mekanisme yang ketat melalui rekomendasi Dinsos, penyusunan rencana anggaran biaya (RAB), serta kewajiban membelanjakan dana untuk kebutuhan usaha maksimal 10 hari setelah pencairan.

    ‎Selain mempercepat proses verifikasi penerima bantuan, Dinsos juga mendorong digitalisasi pemasaran produk UMKM melalui marketplace serta memperluas akses pasar dengan melibatkan BUMDes dan koperasi desa.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler