• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 Teguhkan Kebaya sebagai Identitas Budaya Bangsa

    Any Firgiyanti
    7/24/26, 12:04 WIB Last Updated 2026-07-24T05:04:27Z



    KUDUS, liputankudus.id -- Peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Semangat tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan seminar, talkshow, dan parade berkebaya yang diinisiasi Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Cabang Kudus bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muria Kudus (FEB UMK). Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi mengenai nilai sejarah, filosofi, dan relevansi kebaya di tengah perkembangan zaman.


    Rangkaian acara diawali dengan parade berkebaya yang menampilkan beragam ragam kebaya Nusantara, kemudian dilanjutkan seminar dan talkshow menghadirkan Ketua PBI Cabang Kudus Teresia Leony Widi Hastuti, S.E., M.M. serta Dr. dr. Reni Yuniati, Sp.D.V.E., Subsp. D.T., M.H. Peserta diajak mengenal sejarah perkembangan kebaya beserta keragaman bentuknya, mulai dari Kebaya Kartini, Kebaya Jawa, Kebaya Encim, Kebaya Bali, Kebaya Kutu Baru, Kebaya Labuh, hingga Kebaya Modern, lengkap dengan karakteristik serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.


    Ketua Ikatan Wanita UMK, Dra. Sri Widajanti Darsono, M.Si., menyampaikan bahwa sinergi antara organisasi masyarakat dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis dalam memperkuat pelestarian budaya di tengah tantangan globalisasi.


    "Kegiatan ini menjadi bentuk komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya bangsa. Perguruan tinggi bersama organisasi kemasyarakatan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya, memperkuat karakter, serta memastikan warisan leluhur tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat," ujarnya.


    Ia menambahkan, derasnya arus globalisasi dan perkembangan industri fesyen menuntut generasi muda untuk semakin memahami akar budayanya. Menurutnya, kebaya tidak hanya berfungsi sebagai busana tradisional, tetapi juga merepresentasikan nilai kesopanan, keanggunan, ketangguhan, serta penghormatan terhadap tradisi Nusantara.


    "Kebanggaan mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan merupakan salah satu bentuk nyata pelestarian budaya. Dengan memahami akar budaya sendiri, akan tumbuh rasa cinta terhadap Indonesia sekaligus tanggung jawab untuk menjaga dan mewariskan identitas bangsa kepada generasi berikutnya," tambahnya.



    Dalam pemaparannya, Teresia Leony Widi Hastuti menjelaskan bahwa setiap jenis kebaya lahir dari latar sejarah dan budaya yang berbeda. Kebaya Kartini dikenal dengan lipatan vertikal pada bagian depan, Kebaya Jawa menggunakan bahan transparan bermotif dengan potongan berbentuk V, Kebaya Encim mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu, sedangkan Kebaya Bali memiliki ciri khas penggunaan obi atau selendang di bagian pinggang.


    "Selain itu terdapat Kebaya Kutu Baru yang menggunakan bef, Kebaya Labuh yang berasal dari Riau dan telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, hingga Kebaya Modern yang terus berkembang mengikuti tren tanpa meninggalkan identitas Nusantara," jelas pendiri Terebatik tersebut.


    Sementara itu, Dr. dr. Reni Yuniati, Sp.D.V.E., Subsp. D.T., M.H., menekankan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama, terutama generasi muda sebagai pewaris identitas bangsa. Menurutnya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi karakter dan modal sosial dalam membangun masa depan Indonesia.


    "Kebaya bukan sekadar busana, melainkan representasi nilai luhur perempuan Nusantara yang memadukan keanggunan dan kekuatan. Generasi muda perlu menjaga esensi tradisi sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar budaya tetap hidup, relevan, dan diterima oleh berbagai generasi," tuturnya.


    Ia juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana diplomasi budaya melalui konten-konten kreatif yang memperkenalkan kebaya kepada masyarakat dunia. Menurutnya, pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi perlu diwujudkan melalui kreativitas, inovasi, digitalisasi, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.


    Melalui kegiatan ini, peringatan Hari Kebaya Nasional tidak hanya menjadi ajang mengenakan busana tradisional, tetapi juga memperkuat pemahaman bahwa kebaya merupakan simbol identitas, sejarah, dan nilai-nilai budaya yang perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler