• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Serah #2 DKK: Musikalisasi Puisi, Ruang Temu Generasi Sastra Kudus

    LIPUTAN KUDUS 2
    3/01/26, 22:41 WIB Last Updated 2026-03-01T15:44:41Z





    Liputankudus.id. Kudus--Dewan Kesenian Kudus (DKK) kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang temu dan ruang tumbuh bagi para seniman dan sastrawan melalui gelaran bertajuk Serah. Istilah “Serah” tidak hanya menjadi nama acara, tetapi memuat makna proses penyerahan karya kepada publik bahwa kesenian yang lahir dari kegelisahan, pemikiran, dan kreativitas para pelaku seni akhirnya dipersembahkan kepada masyarakat untuk diapresiasi dan dimaknai bersama. DKK menghadirkan ruang ini sebagai jembatan antara karya dan khalayak.




    Pada Januari 2026, Serah #1 sukses digelar dengan konsep parade tari. Beragam penampil menampilkan kekayaan gerak dan ekspresi yang mencerminkan dinamika artistik pelaku seni di Kudus dan sekitarnya. Antusiasme penonton menjadi penanda bahwa ruang pertunjukan semacam ini dibutuhkan, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai wadah pertemuan gagasan dan energi kreatif.

    Memasuki Februari 2026, Serah #2 hadir dengan tema Ruang Pertunjukan Musikalisasi Puisi di RKBBR Kabupaten Kudus. Puisi dan bunyi berpadu dalam panggung yang intim namun sarat daya hidup. Sejumlah sastrawan dan kelompok kreatif ambil bagian. Nama baru seperti Bredarehuras dan Patas In Harmony sekumpulan siswa yang berani bereksplorasi mewarnai suasana dengan interpretasi mereka atas puisi karya Guru Sekolah SMA 1 Bae, Dian Novi melalui medium musik. Keberanian generasi hari ini menyuarakan teks sastra lewat aransemen bunyi menjadi angin segar bagi perkembangan sastra dan pertunjukan di Kudus.



    Yani Alqudsy dan Ahmed Zeyn Fedawani turut menyemarakkan panggung dengan karakter khas masing-masing. Pada kesempatan ini, keduanya membawakan puisi karya sendiri dalam format musikalisasi, memperlihatkan bagaimana teks dapat menjelma pengalaman auditif yang baru. Kehadiran mereka menjadi magnet tersendiri bagi penikmat sastra yang memadati ruang pertunjukan malam itu.

    Liguzty Poeziya dari Lesbumi dengan kegelisahnya atas situs purbakala Patiaayam juga meramaikan acara dengan semangat kolektif yang terbuka. Kelompok ini memberi ruang bagi siapa pun yang ingin berkarya. Prinsip inklusif tersebut sejalan dengan ruh Serah: siapa pun berhak maju dan mengekspresikan diri. Panggung menjadi milik bersama, tempat ide dan keberanian diuji di hadapan publik.


    Momen pertunjukan sastra ditutup Amokalipsa, kelompok sastra yang sempat vakum. Melalui Serah #2, mereka kembali tampil dan menunjukkan bahwa semangat berkesenian tidak pernah benar-benar padam. Kembalinya kelompok ini menjadi simbol penting bahwa konsistensi ruang dapat menghidupkan kembali api kreativitas yang sempat meredup.


    A. Zaki Yamani mewakili DKK dalam sambutan singkatnya menyampaikan bahwa Serah merupakan proses berkelanjutan. “Kami ingin menciptakan ruang terbuka sebagai wadah apresiasi bagi para seniman untuk tumbuh dan terus berkarya. Terima kasih kepada teman-teman seniman yang malam ini berbagi karya. Serah akan digelar rutin setiap bulan dengan konsep pertunjukan berbeda agar berkesinambungan dari waktu ke waktu,” ujarnya (28/02/2026).


    Ia menambahkan, konsep Serah akan terus dikembangkan dengan tema-tema variatif setiap bulan. Harapannya, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Yang muda dapat belajar dari mereka yang lebih dulu berkarya, sementara generasi senior menyaksikan semangat baru yang tumbuh. Dari perjumpaan itu, ekosistem kesenian dapat terjaga dan berkembang.


    Selain pertunjukan, malam itu juga diisi forum diskusi tentang bagaimana generasi hari ini membaca dan memaknai sastra di Kudus. Perbincangan tidak berhenti pada persoalan minat baca atau produktivitas menulis. Diskusi bergerak menelusuri arus dan arah sastra generasi hari ini serta hubungannya dengan para pendahulu.


    Imam Khanafi, salah satu pembicara, menekankan bahwa forum semacam ini tidak boleh berhenti pada formalitas agenda. Ia melihat pentingnya menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan kegelisahan dan pengalaman kreatif. “Penyair hari ini tidak cukup hanya diberi panggung. Mereka perlu ruang dialog untuk bertumbuh bersama,” tuturnya. Menurutnya, pertumbuhan sastra lahir dari percakapan yang jujur dan berkesinambungan.


    Pertanyaan yang mengemuka malam itu cukup mendasar: apakah generasi hari ini membaca sastra sebagai warisan yang harus dijaga, atau sebagai wilayah perlawanan yang perlu ditafsir ulang? Perdebatan berlangsung hangat tanpa menghasilkan satu kesimpulan tunggal. Namun satu hal menjadi catatan penting: sastra generasi sekarang tidak berdiri di ruang hampa. Ia bernegosiasi dengan tradisi, dengan perkembangan zaman, dan dengan identitasnya sendiri.


    Di akhir diskusi, mengemuka pandangan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya regenerasi, melainkan kesinambungan. Bukan pergantian arus, tetapi pertemuan arus agar tradisi dan pembaruan dapat berjalan berdampingan. Melalui Serah #2, Dewan Kesenian Kudus berupaya menunjukkan perannya dalam merawat ruang bersama, tempat karya dilahirkan, dipertemukan, dan dicatat sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan di Kudus.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler