• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Mangrove Jadi Benteng Awal Pantura

    Any Firgiyanti
    10/08/26, 20:21 WIB Last Updated 2026-10-08T13:24:01Z




    DEMAK. liputankudus.id. – Perlindungan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah mulai diperkuat sebelum pembangunan Giant Sea Wall direalisasikan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) menyiapkan penanaman mangrove berbasis Nature-based Solution di wilayah Sayung, Kabupaten Demak.


    Program tersebut akan menjadi proyek percontohan (demonstration plot) untuk membangun model perlindungan pesisir yang memadukan pemulihan ekosistem dengan pemberdayaan masyarakat.


    Rencana itu dibahas dalam pertemuan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (8/10/2026).


    Fadil mengatakan, perlindungan ekologis menjadi salah satu fokus BOPPJ dalam mengelola kawasan Pantura. Sayung dipilih sebagai salah satu wilayah awal karena menghadapi berbagai persoalan pesisir, termasuk abrasi dan rob.


    “Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di Pantura,” kata Fadil.


    Menurutnya, penanaman mangrove tidak hanya ditujukan untuk menghijaukan kembali kawasan pesisir. Program tersebut diharapkan menjadi model pengelolaan lingkungan yang melibatkan masyarakat sejak tahap awal.


    Masyarakat pesisir, komunitas, dan berbagai elemen lokal akan dilibatkan sebagai mitra dalam menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kawasan.


    “Pasti melibatkan masyarakat. Jadi mitra kebersamaan pemberdayaan masyarakat memang itu tujuan utama dari BOPPJ,” ujarnya.


    BOPPJ juga akan mempelajari sejumlah praktik pengelolaan mangrove yang telah berkembang di Jawa Tengah. Salah satunya ekowisata hutan mangrove di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, yang dikembangkan tokoh pemuda Mohammad Bangkit bersama kelompok sadar wisata.


    Fadil menilai pengalaman masyarakat lokal tersebut dapat menjadi referensi untuk mengembangkan perlindungan pesisir di wilayah lain. Tanaman pesisir dinilai tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik.


    Sementara itu, Ahmad Luthfi mengatakan program tersebut sejalan dengan gerakan Mageri Segoro yang telah dijalankan di berbagai wilayah pesisir Jawa Tengah.


    Menurutnya, perlindungan pantai tidak cukup hanya mengandalkan konstruksi fisik. Infrastruktur perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem melalui mangrove, cemara, kelapa, dan vegetasi pantai lainnya.


    “Program BOPPJ itu selaras dengan program Jawa Tengah. Kita punya program Mageri Segoro yang sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat,” kata Luthfi.


    Jawa Tengah memiliki garis pantai sekitar 1.127,85 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 651,47 kilometer berada di kawasan Pantura. Wilayah pesisir menghadapi tantangan berupa abrasi, rob, penurunan muka tanah, kerusakan ekosistem, sedimentasi, serta kenaikan muka air laut.


    Khusus kawasan Pantura, penurunan muka tanah disebut mencapai sekitar 8-11 sentimeter per tahun. Kondisi tersebut membuat penguatan perlindungan pesisir dinilai perlu dilakukan sejak dini.


    “Upaya pencegahan sejak dini ini diberikan sebelum pelaksanaan Giant Sea Wall dilaksanakan,” ujar Luthfi.


    Dalam jangka panjang, Giant Sea Wall direncanakan membentang sekitar 274,7 kilometer di Jawa Tengah, mulai Brebes hingga Rembang.


    Namun, sebelum infrastruktur tersebut terbangun, pemerintah mendorong masyarakat memperkuat benteng alami pesisir. Penanaman mangrove dan vegetasi pantai diharapkan membangun kebiasaan menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan kawasan Pantura.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler