• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Kemarau Ekstrem, Petani Demak Rogoh Rp50 Jua

    Any Firgiyanti
    9/15/26, 19:04 WIB Last Updated 2026-09-15T12:05:18Z




    ‎DEMAK  liputankudus.id  – Ancaman kemarau ekstrem membuat petani di Kabupaten Demak harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan tanaman padi. Kondisi minim air pada musim tanam ketiga (MT 3) bahkan membuat biaya produksi membengkak hingga lebih dari dua kali lipat.

    ‎Salah satunya dialami Subkhi, petani di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam. Ia menggarap sawah sewaan sekitar 1.000 meter persegi yang kini ditanami padi berusia sekitar satu bulan.

    ‎Di tengah keterbatasan air, Subkhi harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air. Air dari saluran pembuangan permukiman ditampung terlebih dahulu di kubangan yang dibuat secara mandiri, kemudian dipompa menuju lahan.

    ‎Ia juga harus menyalakan mesin diesel untuk menyedot air. Bahkan, dalam kondisi tertentu Subkhi rela bermalam di sawah untuk memastikan pasokan air tetap berjalan.

    ‎“Masalahnya air, kurang. Air buangan dari kampung, perumnas dan pondok saya tampung di kubangan. Kalau normal sekitar Rp20 juta sudah termasuk pupuk sampai panen. Sekarang mulai tandur dan memupuk saja sudah Rp40 juta, kalau ditotal dengan tenaga dan lainnya sekitar Rp50 juta lebih,” katanya. 

    ‎Menurutnya, keterbatasan air diperparah dengan suhu panas yang cukup ekstrem. Sebagian tanaman padi mengalami kerusakan karena tidak mendapatkan pengairan secara optimal.

    ‎Kondisi serupa dirasakan Ahmad Husein, petani lainnya. Untuk mendapatkan air, ia harus mengatur jadwal penyedotan secara bergantian dengan petani lain. Jika dilakukan bersamaan, debit air cepat berkurang.

    ‎“Kalau menyedot bersama-sama, airnya cepat habis. Kalau bergantian dua atau tiga orang masih lancar,” ujarnya.

    ‎Keterbatasan modal juga menjadi persoalan. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk, Husein terpaksa berutang kepada toko pertanian. Bahkan, sebagian lahan yang digarapnya tidak ditanami padi karena sulit mendapatkan pasokan air.

    ‎“Kalau ongkos sekarang lebih besar karena tambah bensin. Saya tidak punya uang, kalau mau beli pupuk ya minta dulu ke toko atau utang,” katanya.

    ‎Pemkab Demak pun melakukan langkah penyelamatan untuk mencegah tanaman padi mengalami puso. Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto mengatakan sekitar 1.200 hektare sawah sempat terdampak kekeringan dan terancam gagal panen.

    ‎Pemkab kemudian berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta kementerian terkait untuk menggelontorkan air dari saluran irigasi Sungai Tuntang. Upaya tersebut diperkirakan mampu menyelamatkan sekitar 1.100 hektare tanaman padi.

    ‎“Dari sekitar 1.200 hektare yang terdampak, sekitar 1.100 hektare tanaman padi mudah-mudahan bisa terselamatkan,” kata Akhmad.

    ‎Sementara sekitar 100 hektare lahan yang belum terjangkau irigasi, terutama di Kecamatan Karangtengah dan Guntur, diupayakan mendapat pasokan melalui pompa air.

    ‎Bantuan pompa juga diarahkan ke lahan palawija. Selain itu, pihaknya menyiapkan bantuan pangan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Distribusi beras dilakukan per desa, dengan rata-rata satu ton dan sekitar 30 kilogram untuk setiap keluarga penerima manfaat.

    ‎"Langkah tersebut dilakukan agar ancaman kemarau tidak hanya ditekan pada sektor pertanian, tetapi juga tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat Demak," pungkasnya. 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler