• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Serah#8 Ketika Agustus Usai, Ke Mana Perginya Seni di Kampung?

    Any Firgiyanti
    8/27/26, 22:46 WIB Last Updated 2026-08-27T15:47:15Z




    KUDUS. liputankudus id. — Ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap bulan Agustus. Kampung-kampung berubah menjadi ruang perayaan. Lapangan menjadi panggung, jalan kampung menjadi arena karnaval, halaman rumah menjadi tempat pertunjukan, sementara anak-anak dan remaja mengambil peran sebagai penari, pemusik, pemain teater, pembawa acara, hingga panitia.


    Dalam waktu singkat, kehidupan seni seperti menemukan rumahnya kembali di tengah masyarakat. Warga yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing berkumpul, berlatih, membuat kostum, menyiapkan panggung, mencari dukungan, hingga menyelenggarakan pertunjukan. Ada kegembiraan, ada gotong royong, dan ada energi kreatif yang muncul secara spontan. Tetapi begitu perayaan kemerdekaan selesai, pertunjukan biasanya ikut berhenti.


    Panggung dibongkar. Lampu dimatikan. Peralatan dikembalikan ke tempat semula. Lapangan kembali menjadi ruang olahraga. Anak-anak kembali ke sekolah, orang dewasa kembali bekerja, dan kelompok seni kembali menunggu undangan atau momentum berikutnya. Di antara satu Agustus dan Agustus berikutnya, lalu apa yang terjadi dengan seni di kampung?


    Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian SERAH #8, yang akan berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB di Sanggar Seni Karang Gayam, Desa Sidorekso, Kudus. Memasuki semester kedua, SERAH tidak hanya melihat kampung sebagai tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan. Lebih jauh, SERAH mencoba membaca kampung sebagai ruang kebudayaan: tempat masyarakat sebenarnya memiliki potensi untuk menciptakan, merawat, dan mengembangkan kehidupan seni secara mandiri.


    Energi Seni Sebenarnya Sudah Ada

    Ketua Dewan Kesenian Kudus, Dian Puspita Sari, melihat fenomena perayaan Agustus sebagai bukti bahwa persoalan seni di kampung bukan semata-mata soal ada atau tidaknya minat masyarakat. Setiap tahun, masyarakat membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan sebuah peristiwa seni dengan sumber daya yang mereka miliki.

    "Setiap Agustus kita bisa melihat bagaimana masyarakat sebenarnya punya energi yang besar untuk berkesenian," ujar Dian.

    Persoalannya, energi tersebut sering kali berhenti bersamaan dengan berakhirnya perayaan.

    Menurut Dian, tantangannya adalah mengubah pola dari kegiatan yang bersifat momentum menjadi proses yang berlangsung terus-menerus.

    "Jangan sampai masyarakat hanya menjadi pelaksana pertunjukan ketika ada momentum tertentu. Persoalannya kemudian adalah bagaimana setelah acara selesai, kegiatan itu tidak berhenti," katanya.

    Pertanyaan tersebut sekaligus mengajak melihat kembali ukuran keberhasilan sebuah kegiatan seni. Apakah keberhasilan hanya ditentukan oleh ramainya penonton? Besarnya panggung? Meriahnya tata cahaya? Atau banyaknya dokumentasi yang beredar di media sosial?

    Jika keberlanjutan menjadi ukuran, pertanyaan yang muncul justru berbeda: apakah ada latihan setelah pertunjukan? Apakah anak-anak memiliki ruang untuk terus belajar? Apakah kelompok seni menghasilkan karya baru? Apakah pengetahuan yang dimiliki generasi sebelumnya berpindah kepada generasi berikutnya?

    "Kalau kita ingin bicara ekosistem, berarti bukan hanya bicara acara. Kita bicara proses sebelum dan sesudah acara," ujar Dian.


    Jangan Menunggu Acara Besar

    Dari perspektif pengelolaan program, Melly Ferdiani Tasmara, Pimpro SERAH, melihat adanya kecenderungan untuk menyamakan pengembangan seni dengan penyelenggaraan festival.


    Padahal, festival hanyalah salah satu bentuk aktivitas dalam ekosistem yang jauh lebih luas.

    "Kita sering berpikir kalau ingin menghidupkan seni berarti harus membuat acara besar. Padahal belum tentu," kata Melly.

    Menurutnya, kehidupan seni justru dapat dibangun melalui aktivitas yang sederhana tetapi konsisten. Latihan mingguan, kelas seni bagi anak-anak, forum apresiasi, pertunjukan kecil, dokumentasi, diskusi, hingga pertemuan antarkelompok dapat menjadi mata rantai yang menjaga aktivitas seni tetap hidup.


    "Yang penting bukan seberapa besar acaranya, tetapi apakah setelah acara itu ada sesuatu yang tetap hidup," ujarnya.

    Cara pandang ini juga mengubah posisi masyarakat dalam pembangunan kebudayaan. Warga bukan sekadar penonton yang menikmati pertunjukan atau penerima program dari pemerintah dan komunitas seni. Mereka adalah bagian dari ekosistem yang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kepentingan terhadap keberlangsungan kebudayaan di wilayahnya sendiri.

    Karena itu, sanggar, sekolah, pemerintah desa, komunitas, kelompok seni, pelaku usaha, dan warga dapat mengambil peran yang saling melengkapi.

    "Kalau semua dibebankan kepada pemerintah atau komunitas seni, ekosistemnya akan rapuh. Harus ada kepemilikan bersama," ujar Melly.

    Bukan Sekadar Tempat Pertunjukan

    Bagi Bazar Al Walid, penulis dan sutradara, persoalan keberlanjutan juga menyangkut cara melihat ruang kampung.

    Kampung tidak semestinya hanya menjadi lokasi yang dipilih untuk menyelenggarakan sebuah acara. Ia dapat menjadi tempat di mana proses kebudayaan berlangsung setiap hari.

    "Jangan sampai kampung hanya menjadi tempat kita mengadakan acara. Kampung harus menjadi ruang di mana proses kebudayaan itu berlangsung," ujarnya.

    Ruang tersebut sebenarnya tersedia di sekitar masyarakat. Balai desa, halaman rumah, sanggar, sekolah, lapangan, bahkan ruang-ruang informal seperti warung atau tempat berkumpul warga dapat menjadi tempat bertemu, belajar, berdiskusi, dan berkesenian.

    "Panggung itu tidak harus selalu panggung besar. Kadang yang kita butuhkan justru ruang untuk bertemu dan berproses," kata Walid.

    Dari sana, seni dapat tumbuh bukan sebagai pelengkap acara, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial.

    Anak-anak belajar. Remaja bereksperimen. Kelompok seni berlatih. Warga menonton. Seniman berdiskusi. Pengetahuan lokal didokumentasikan. Karya baru lahir.


    Rangkaian itulah yang membentuk ekosistem. Dengan kata lain, keberlanjutan seni tidak hanya berarti memastikan sebuah kelompok kesenian tidak bubar. Lebih dari itu, diperlukan rantai yang memungkinkan kebudayaan terus diproduksi: ada yang belajar, ada yang mencipta, ada yang tampil, ada yang menonton, ada yang memberikan kritik, dan ada yang mewariskan pengetahuan.


    Dari Momentum Menjadi Kebiasaan

    Salah satu persoalan yang hendak dibicarakan SERAH #8 adalah kebiasaan menjadikan seni sebagai peristiwa.

    Seni hadir ketika ada peringatan kemerdekaan. Hadir ketika ada sedekah bumi. Hadir ketika ada festival. Setelah itu, ruang-ruang kesenian kembali sunyi. Padahal ekosistem tidak lahir dari satu pertunjukan. Ia tumbuh dari kebiasaan bertemu. Satu latihan mungkin menghasilkan seorang pemain baru. Satu pertunjukan bisa memperkenalkan kelompok seni kepada penonton baru. Satu diskusi dapat melahirkan gagasan. Satu dokumentasi dapat menyelamatkan pengetahuan. Satu kolaborasi dapat membuka jaringan baru.


    Karena itu, pertanyaan mengenai keberlanjutan seharusnya tidak berhenti pada "seberapa sukses acara ini?"

    Pertanyaan yang lebih penting adalah:

    "Apa yang terjadi setelah acara ini selesai?"

    Jika tidak ada aktivitas lanjutan, sebuah pertunjukan bisa saja hanya menjadi peristiwa yang selesai dalam satu malam.

    Sebaliknya, jika sebuah pertunjukan melahirkan latihan, pengetahuan, jaringan, karya baru, dan regenerasi, maka acara tersebut dapat menjadi bagian dari proses yang lebih panjang.


    Kemerdekaan Manusia sebagai Ruang untuk Berkebudayaan

    SERAH #8 juga menempatkan momentum pasca-Agustus sebagai kesempatan untuk memaknai kembali arti kemerdekaan.

    Kemerdekaan tidak hanya hadir dalam bentuk upacara, perlombaan, karnaval, atau panggung hiburan. Kemerdekaan juga dapat berarti kemampuan masyarakat untuk memiliki ruangnya sendiri: ruang untuk berkumpul, berekspresi, menciptakan pengetahuan, menyampaikan kritik, dan membayangkan kehidupan yang mereka inginkan.

    "Saya kira seni bisa menjadi salah satu cara masyarakat merawat kemerdekaannya. Bukan hanya merayakan, tetapi punya ruang untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan," ujar Dian.

    Namun, ruang tersebut tidak akan tumbuh jika setiap tahun masyarakat harus memulai kembali dari awal.

    "Kalau setiap tahun kita mulai dari nol lagi, kita tidak pernah benar-benar membangun ekosistem," kata Melly.

    Bagi Walid, pembangunan ekosistem juga tidak harus dimulai dengan fasilitas yang sempurna.

    "Kita tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Kalau ada orang yang mau berkumpul, mau belajar, dan ada ruang untuk bertemu, ekosistem itu sudah mulai tumbuh," ujarnya.


    Apa yang Tersisa Setelah Panggung Dibongkar?

    SERAH #8 tidak bermaksud menawarkan formula tunggal mengenai bagaimana sebuah kampung harus membangun keseniannya. Yang lebih penting adalah membuka percakapan mengenai potensi yang sebenarnya telah dimiliki masyarakat. Sebab setiap Agustus telah menunjukkan satu fakta sederhana: masyarakat memiliki energi untuk berkesenian. Tantangannya adalah bagaimana energi tersebut tidak habis bersama pesta. Mungkin yang diperlukan bukan panggung yang lebih besar, melainkan ruang yang lebih banyak. Bukan festival yang semakin sering, melainkan kegiatan yang semakin rutin. Bukan sekadar mendatangkan pertunjukan ke kampung, melainkan memberi kesempatan kepada kampung untuk memproduksi kebudayaannya sendiri. Dan bukan menjadikan masyarakat sebagai penonton pembangunan kebudayaan, tetapi sebagai pemilik sekaligus penggeraknya. Pada akhirnya, setelah bendera merah putih diturunkan, panggung dibongkar, dan suara pengeras musik berhenti, pekerjaan kebudayaan tidak seharusnya ikut selesai. Justru di situlah pertanyaan berikutnya dimulai: Bagaimana membuat seni tetap hidup ketika tidak ada lagi alasan untuk berpesta? SERAH #8 mengajak masyarakat untuk tidak hanya mencari jawaban melalui diskusi, tetapi juga melalui perjumpaan, pertunjukan, dan pengalaman bersama. Karena barangkali keberlanjutan seni di kampung tidak dimulai dari sebuah proyek besar. Ia dimulai dari keputusan sederhana untuk tetap berkumpul setelah pesta selesai.


    SERAH #8


    Sabtu, 29 Agustus 2026

    Sanggar Seni Karang Gayam

    Desa Sidorekso, Kudus

    Pukul 19.00 WIB


    Saksikan dan jadilah bagian dari SERAH #8.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler