JAKARTA, liputankudus.id – Pemerintah Kabupaten Kudus kembali
menawarkan potensi investasinya kepada dunia usaha melalui Central Java
Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara,
Jakarta, Kamis (27/8/2026). Namun, di tengah gencarnya promosi investasi
tersebut, tantangan pemerintah daerah bukan sekadar mendatangkan investor,
melainkan memastikan investasi yang masuk benar-benar menghasilkan manfaat
ekonomi bagi masyarakat.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Kudus
Bellinda Birton menghadiri CJIBF 2026 yang mengusung tema “Accelerating
Investment Growth in Central Java through Sustainable Development and Regional
Competitiveness”. Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pemilik
proyek, dan calon investor dalam skema business matching.
Tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menawarkan 19
proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) dengan nilai total sekitar
Rp14,9 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi modal yang hendak
dihimpun, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa banyak
proyek yang nantinya benar-benar terealisasi.
Bagi Kudus, forum investasi semacam CJIBF menjadi
kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus membangun jejaring
dengan pelaku usaha. Bupati Sam’ani mengatakan pemerintah daerah ingin
investasi terus berkembang dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
“Kami ingin investasi di Kudus terus berkembang dengan
tetap memperhatikan kepentingan masyarakat. Investasi yang masuk diharapkan
mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi, meningkatkan daya saing
daerah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Sam’ani.
Pernyataan tersebut menempatkan manfaat bagi masyarakat
sebagai salah satu ukuran keberhasilan investasi. Artinya, keberhasilan
pemerintah daerah semestinya tidak cukup diukur dari nilai investasi yang
ditawarkan maupun jumlah investor yang menyatakan minat, tetapi juga dari
berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, seberapa besar usaha lokal
terlibat, dan seberapa kuat dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.
Sam’ani menilai penciptaan iklim investasi yang kondusif
membutuhkan pelayanan, kemudahan, kepastian, serta kolaborasi antara pemerintah
dan dunia usaha.
“Kita terus membuka ruang kolaborasi. Potensi yang dimiliki
Kudus harus dikembangkan dengan investasi yang sehat dan berkelanjutan,
sehingga memberikan dampak positif bagi daerah,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan jargon
investasi berkelanjutan tidak berhenti pada promosi. Investasi yang masuk juga
perlu memiliki kejelasan mengenai dampak lingkungan, kebutuhan tenaga kerja,
keterlibatan pelaku usaha lokal, serta kontribusinya terhadap penerimaan dan
pembangunan daerah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan CJIBF
menjadi momentum untuk mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor.
Menurutnya, investasi tetap memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi
dan pembuka lapangan kerja.
“CJIBF ini menjadi momentum untuk mempertemukan pemilik
proyek dengan calon investor. Kami ingin investasi di Jawa Tengah terus tumbuh
dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam membuka lapangan
pekerjaan dan menggerakkan perekonomian,” kata Luthfi.
Pemerintah pusat juga melihat investasi sebagai salah
satu motor penggerak perekonomian nasional. Deputi Bidang Perencanaan Penanaman
Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zulkarnaen menyebut
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen.
Sementara realisasi investasi nasional hingga semester I
2026 tercatat sekitar Rp1.010 triliun atau tumbuh sekitar 7,1–7,2 persen. Angka
tersebut masih harus dikejar menuju target investasi nasional sebesar Rp1.200
triliun sepanjang 2026.
“Di tengah kondisi ekonomi global yang sedang penuh
ketidakpastian, investasi kita masih tumbuh cukup cepat. Ini menunjukkan bahwa
investasi betul-betul menjadi salah satu motor penggerak perekonomian
Indonesia,” ujar Ichsan.
Pemerintah juga tengah menyiapkan Rancangan Umum
Penanaman Modal (RUPM) yang nantinya menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam
menentukan arah kebijakan penanaman modal hingga 2045, setelah proses penetapan
dan tindak lanjut regulasinya selesai.
Persoalannya, pertumbuhan investasi secara agregat belum
otomatis menunjukkan bahwa manfaatnya terdistribusi secara merata di tingkat
daerah. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota dituntut tidak hanya
kompetitif dalam menawarkan proyek, tetapi juga memiliki strategi agar modal
yang masuk terhubung dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah Sakina Rosellasari mengatakan
proyek yang ditawarkan dalam CJIBF telah melalui proses kurasi dan disiapkan
untuk mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor. Selain 19 proyek
IPRO, peluang investasi juga diarahkan pada sejumlah kawasan ekonomi dan
industri strategis di Jawa Tengah.
“Kami terus melakukan pendekatan kepada calon investor
dan mempertemukan mereka dengan pemilik proyek. Harapannya, kepeminatan yang
muncul dalam forum ini dapat berlanjut menjadi realisasi investasi di Jawa
Tengah,” jelas Sakina.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa forum
bisnis baru merupakan tahap awal. Interest atau ketertarikan investor belum
sama dengan komitmen investasi, sementara komitmen belum tentu berujung pada
realisasi proyek.
Karena itu, pekerjaan rumah pemerintah daerah setelah
CJIBF justru lebih penting: memastikan calon investor mendapatkan kepastian
proses, proyek memiliki kelayakan yang jelas, dan investasi yang terealisasi
tidak mengabaikan kepentingan masyarakat.
Bagi Kudus, promosi investasi seharusnya tidak berhenti
pada seberapa besar nilai proyek yang mampu ditawarkan. Ukuran yang lebih
substantif adalah apakah investasi tersebut mampu menciptakan pekerjaan yang
layak, memperkuat usaha lokal, meningkatkan produktivitas daerah, serta memberi
nilai tambah yang bertahan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, tantangan Bupati Sam’ani bukan hanya
menjual potensi Kudus kepada investor, tetapi juga memastikan bahwa ketika
modal benar-benar masuk, masyarakat Kudus tidak sekadar menjadi penonton dari
pertumbuhan investasi di daerahnya sendiri.



