KUDUS. liputankudus.id. – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 017 UIN Sunan Kudus turut mendorong upaya pelestarian potensi lokal Desa Kajar melalui program revitalisasi Sendang Dapur. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keberadaan sumber mata air yang dinilai memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat setempat.
Koordinator Desa KKN-017, Ahmad Nafis Azhar, mengatakan Sendang Dapur dipilih sebagai salah satu fokus program kerja karena memiliki potensi yang perlu terus dilestarikan. Selain menjadi bagian dari warisan yang ditinggalkan generasi terdahulu, keberadaan Sendang Dapur selama ini juga telah memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena Sendang Dapur merupakan salah satu potensi desa yang perlu dilestarikan karena warisan nenek moyang dan sudah memberikan manfaat kepada khalayak ramai,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan revitalisasi, mahasiswa KKN-017 melakukan sejumlah pembenahan sederhana namun diharapkan mampu memberikan perubahan terhadap tampilan kawasan Sendang Dapur. Perbaikan tersebut meliputi pengecatan kembali area sendang, pemasangan plang, serta pembuatan papan informasi mengenai sejarah Sendang Dapur.
Selain melakukan pembenahan fisik, mahasiswa juga berupaya membantu branding Sendang Dapur agar keberadaannya semakin dikenal masyarakat luas. Upaya tersebut dilakukan dengan harapan Sendang Dapur tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga semakin dikenal sebagai salah satu potensi khas Desa Kajar.
Ahmad menilai keberadaan Sendang Dapur memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi potensi baru bagi desa. Terlebih, tempat tersebut disebut telah dikenal oleh banyak orang.
“Sendang Dapur merupakan salah satu aset desa yang perlu dilestarikan. Ternyata Sendang Dapur sudah dikenal banyak orang. Dengan revitalisasi ini diharapkan bisa menjadi lebih terkenal sebagai warisan asli khas Desa Kajar,” jelasnya.
Hadapi Tantangan Internal
Di balik pelaksanaan program tersebut, KKN-017 juga menghadapi sejumlah tantangan. Ahmad menyebut tantangan terbesar justru berasal dari internal kelompok, terutama dalam membagi waktu dengan berbagai kegiatan lain serta menjaga semangat anggota selama proses pengerjaan.
Benturan jadwal dengan kegiatan kelompok lainnya menjadi salah satu hal yang harus disiasati agar program revitalisasi tetap dapat berjalan. Di sisi lain, menjaga konsistensi dan semangat seluruh anggota juga menjadi bagian dari proses yang harus dilalui mahasiswa.
Meski demikian, program tersebut tetap dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Kajar.
Ahmad berharap setelah masa KKN berakhir, keberadaan Sendang Dapur tetap mendapatkan perhatian dari masyarakat. Ia berharap warga dapat bersama-sama menjaga kebersihan serta kondisi bangunan agar hasil pembenahan yang telah dilakukan dapat bertahan.
“Kami berharap setelah kami sudah tidak berada di Desa Kajar, masyarakat ikut membantu menjaga kebersihan dan menjaga bangunan bersama agar tetap terjaga,” harapnya.
Memiliki Nilai Sejarah dan Budaya
Sementara itu, perangkat Desa Kajar, Jamasri, menjelaskan bahwa Sendang Dapur memiliki arti tersendiri bagi masyarakat setempat. Menurutnya, keberadaan sendang tidak hanya dipandang sebagai sumber mata air, tetapi juga dipercaya berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat.
“Di mata warga Desa Kajar, Sendang Dapur bukan hanya sumber air, tetapi juga dipercaya sebagai petilasan yang berkaitan dengan Sunan Muria,” ungkap Jamasri.
Selain nilai historis tersebut, Sendang Dapur juga dikenal masyarakat sebagai tempat untuk menyampaikan hajat atau permohonan tertentu, seperti harapan memperoleh kesembuhan maupun jodoh.
Keberadaan nilai sejarah dan kepercayaan masyarakat tersebut membuat Sendang Dapur memiliki potensi yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut aspek budaya yang berkembang di tengah masyarakat Desa Kajar.
Pemerintah Desa Kajar, lanjut Jamasri, menyambut baik keterlibatan mahasiswa KKN UIN Sunan Kudus dalam program revitalisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan mahasiswa memberikan perhatian tambahan terhadap keberadaan Sendang Dapur.
“Menurut pemerintah desa, kegiatan revitalisasi ini baik pelaksanaannya,” katanya.
Terbentur Anggaran
Terkait pengembangan Sendang Dapur ke depan, Jamasri menyebut pemerintah desa sebenarnya telah memiliki rencana tindak lanjut. Namun, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan pengembangan tersebut.
Meski demikian, peluang untuk mengembangkan Sendang Dapur masih terbuka. Keberadaan juru kunci yang selama ini turut mengurus sendang menjadi salah satu faktor pendukung dalam menjaga keberlangsungan tempat tersebut.
“Dari pihak pemerintah desa rencana tindak lanjut dari awal sudah ada, tetapi terhalang anggaran. Untuk seterusnya bisa diurus karena sudah ada juru kunci yang mengurusnya,” jelas Jamasri.
Warga Rasakan Perubahan
Pembenahan Sendang Dapur juga mendapat tanggapan positif dari warga sekitar. Umi Kulsum, salah seorang warga, mengaku merasakan perubahan suasana setelah adanya revitalisasi.
Menurutnya, lingkungan Sendang Dapur kini terlihat lebih bersih, rapi, lapang, dan nyaman dipandang. Kondisi tersebut dinilai memberikan suasana yang lebih baik bagi warga maupun pengunjung yang datang.
“Lingkungan lebih bersih, rapi, lapang, dan lebih enak dipandang. Suasananya juga lebih nyaman, jadi warga maupun pengunjung yang datang bisa lebih enak,” tuturnya.
Selain perubahan dari sisi tampilan, manfaat lain juga dirasakan pada area sumber mata air. Kondisi bak sumber mata air menjadi lebih bersih, sementara lingkungan di sekitarnya terlihat lebih terawat.
Umi berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan sehingga Sendang Dapur tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Desa Kajar, tetapi juga tetap memberikan kenyamanan bagi warga dan pengunjung.
Revitalisasi yang dilakukan KKN-017 UIN Sunan Kudus tersebut menjadi langkah sederhana dalam menjaga keberadaan Sendang Dapur. Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa, potensi tersebut diharapkan dapat terus dirawat serta dikembangkan tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya.



