![]() |
| Jembatan Jojo-Kesambi saat ini sedang dibangun. ini merupakan satu dari lima jembatan lain yang dibangun pemkab Kudus pada tahun 2026. (Foto: Noer*) |
KUDUS, liputankudus.id -- Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) membangun ulang Jembatan Jojo-Kesambi untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengatasi persoalan genangan yang selama ini terjadi saat musim hujan.
Jembatan yang berada pada ruas jalan kabupaten tersebut dibangun dengan anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sekitar Rp4,9 miliar. Pekerjaan dimulai 27 Juli 2026 dan ditargetkan selesai pada 23 November 2026 atau selama empat bulan masa kontrak.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Kudus, Supriyadi, mengatakan pembangunan dilakukan karena kondisi struktur jembatan lama sudah mengalami kerusakan dan kapasitasnya tidak lagi memadai untuk kebutuhan lalu lintas.
“Penggantian ini karena satu struktur abutmen sudah parah. Jembatan lama panjang hanya 12 meter dengan lebar tiga meter dan di tengahnya masih ada pilar existing,” kata Supriyadi.
Dalam pembangunan baru, struktur lama tersebut diganti dengan girder pabrikasi sepanjang 25 meter. Lebar efektif jembatan juga diperbesar menjadi delapan meter sehingga kendaraan dapat melintas dengan lebih leluasa.
Menurut Supriyadi, pelebaran menjadi penting karena kondisi jembatan lama menyulitkan kendaraan ketika melakukan manuver atau berpapasan. Secara ideal, jembatan tersebut membutuhkan ukuran sekitar 6 meter kali 15 meter, namun desain akhirnya dibuat lebih panjang dan lebar untuk menyesuaikan kebutuhan konstruksi serta lalu lintas.
Selain diperlebar, posisi jembatan juga ditinggikan sekitar satu meter dari lantai jembatan lama. Langkah tersebut dilakukan karena ketika hujan deras, air kerap melimpas hingga melewati lantai jembatan.
“Ditinggikan karena saat musim hujan sudah limpas airnya di atas jembatan. Dari existing naik satu meteratau dari lantai lama naik satu meter,” ujarnya.
Peninggian dan pelebaran jembatan juga diikuti penyesuaian oprit. PUPR menyiapkan oprit sekitar satu meter, namun pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi lapangan, terutama keberadaan rumah warga di sekitar lokasi.
“Untuk oprit nanti diatur menjadi satu meter. Nanti kondisional, mengingat atau memperhatikan rumah warga,” kata Supriyadi.
Supriyadi menjelaskan, pekerjaan saat ini masih berada pada tahap pembongkaran dan penggalian struktur jembatan lama serta abutmen. Progres pekerjaan tercatat minus sekitar 3,8 persen dari rencana 4,4 persen.
Keterlambatan tersebut antara lain dipengaruhi proses pemindahan jaringan pipa PDAM dan tiang atau jaringan listrik yang berada di sekitar lokasi jembatan terlebih dahulu. Kondisi itu membuat proses pembongkaran jembatan lama membutuhkan waktu lebih panjang.
“Sekarang masih penggalian jembatan lama dan abutmen. Untuk progres minus 3,8 persen. Salah satunya akibat pemindahan pipa PDAM dan jaringan listrik sehingga pembongkaran jembatan lama molor. Rencananya sekarang mestinya sudah 4,4 persen,” jelasnya.
Jembatan Jojo-Kesambi merupakan salah satu dari enam jembatan yang ditangani Pemkab Kudus melalui Dinas PUPR pada 2026. Lima jembatan lainnya adalah Medini-Kutuk, Lambangan-Berugenjang, Rahtawu-Semliro, Kawakan-Gringging, dan Karangmalang-Peganjaran.
Penanganan keenam jembatan tersebut dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing. Di antaranya terdapat kerusakan abutmen, penurunan struktur, gerusan aliran sungai, serta dimensi jembatan yang sudah tidak memadai untuk kebutuhan kendaraan.
Supriyadi mengatakan Jembatan Jojo-Kesambi menjadi tanggung jawab Pemkab Kudus karena berada pada ruas jalan kabupaten. Sementara sejumlah jembatan lain dalam satu rangkaian ruas tersebut bukan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten.
“Jembatan ini karena ruas jalan kabupaten dan kewenangan kabupaten. Sementara jembatan satu sampai sembilan bukan kewenangan kabupaten,” ujarnya.
Pembangunan Jembatan Jojo-Kesambi diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi struktur yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga meningkatkan kelancaran lalu lintas dan mengurangi risiko limpasan air saat musim hujan.
Sebelumnya, PUPR Kudus menyebut penanganan enam jembatan pada 2026 diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarkawasan sekaligus meningkatkan kemantapan infrastruktur jalan dan jembatan. Tingkat kemantapan jalan dan jembatan Kabupaten Kudus tercatat mencapai 94,01 persen, meningkat dari 91,29 persen.



