![]() |
| Jembatan Rahtawu-Semliro menjadi salah satu dari enam jembatan penghubung yang mendapatkan prioritas penanganan Pemkab Kudus pada 2026. (Foto: Dok. PUPR) |
KUDUS, liputankudus.id – Rehabilitasi Jembatan
Rahtawu-Semliro di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, terus
dikebut. Hingga Senin (10/8/2026), progres pekerjaan jembatan yang menjadi
salah satu akses utama menuju kawasan wisata Rahtawu tersebut telah mencapai
sekitar 23,6 persen.
Pekerjaan dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar dari APBD
Kabupaten Kudus 2026 itu dilakukan untuk memperkuat sekaligus memperlebar
konstruksi jembatan yang selama ini dinilai sudah tidak memadai.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
(PUPR) Kabupaten Kudus, Supriyadi, mengatakan kondisi jembatan sebelumnya
mengalami kerusakan pada bagian penyangga atau abutmen.
Selain konstruksinya yang mulai keropos, lebar jembatan
yang hanya sekitar tiga meter juga menyulitkan kendaraan roda empat ketika
berpapasan.
"Pertama memang aksesnya terlalu sempit, kemudian
penyangga jembatan sudah rusak sehingga kami usulkan perbaikan," kata
Supriyadi, Selasa (10/8/2026).
Dalam rehabilitasi tersebut, jembatan akan diperlebar
menjadi delapan meter dengan lebar enam meter. Struktur jembatan menggunakan
konstruksi beton, termasuk box culvert dan talud. Sementara bagian permukaan
jembatan akan dilapisi aspal jenis AC-WC.
Saat ini pekerjaan masih memasuki tahap pengecoran
abutmen. Pemkab Kudus juga menyiapkan jembatan darurat agar mobilitas warga
tetap berjalan selama proses pembangunan.
"Rehabilitasi ini untuk memperkuat struktur
sekaligus memperlebar jembatan sehingga kendaraan bisa melintas dengan lebih
aman dan nyaman," ujarnya.
Sementara itu, Edy Supriyanto dari CV. Dila Bangun
Perkasa, mengaku sejauh ini tidak ada kendala dalam pengerjaannya. Dia hanya
menyebutkan, karena ini adalah jembatan di atas sungai pegunungan, hal yang
cukup merepotkan hanya soal pengangkatan batu untuk lokasi podasi yang
besar-besar.
“Untuk mengatasi hal tersebut saya mambawa dua unit alat
berat khusus ke atas sini. Selain itu distribusi bahan baku cukup repot. Tapi sejauh
ini semuanya lancar. Dan Insaya Allah awal Sepetember sudah masuk finishing. Lebih
cepat dari yang dijadwal dinas PUPR,” ujarnya.
Jembatan Rahtawu-Semliro memiliki posisi strategis karena
menjadi salah satu akses menuju sejumlah destinasi wisata di Desa Rahtawu. Di
antaranya kawasan pendakian Puncak 29, Seribu Batu, serta sejumlah air terjun
yang menjadi tujuan wisatawan.
"Ini merupakan akses utama menuju kawasan wisata di
Rahtawu, termasuk basecamp pendakian Puncak 29, wisata Seribu Batu, air terjun
dan lainnya," kata Supriyadi.
Pemkab Kudus berharap pembangunan dapat diselesaikan
lebih cepat sehingga akses masyarakat dan wisatawan kembali normal tanpa harus
menunggu hingga batas akhir masa kontrak.
Rahtawu-Semliro menjadi salah satu dari enam jembatan
penghubung yang mendapatkan prioritas penanganan Pemkab Kudus pada 2026.
Berdasarkan data Dinas PUPR, total anggaran untuk
pembangunan dan rehabilitasi enam jembatan tersebut mencapai sekitar Rp11,69
miliar. Keenamnya tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus, yakni
Karangmalang-Peganjaran, Jojo-Kesambi, Lambangan-Berugenjang, Rahtawu-Semliro,
Kawakan-Gringging, serta Medini-Kutuk.
Penanganan dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing
jembatan. Di Lambangan-Berugenjang, pekerjaan dilakukan karena terjadi
penurunan struktur. Sedangkan jembatan di Gringging membutuhkan penanganan
akibat gerusan aliran sungai dan ukuran lebar jembatan yang sudah tidak
memadai.
Sementara di Rahtawu-Semliro, pekerjaan difokuskan pada
pelebaran jembatan sekaligus penguatan struktur abutmen. Struktur lama yang
menggunakan pasangan batu kali diperkuat dengan beton bertulang.
Selain Rahtawu-Semliro, pembangunan Jembatan
Karangmalang-Peganjaran menjadi salah satu pekerjaan yang progresnya cukup
signifikan. Hingga akhir Juli 2026, progresnya dilaporkan telah mencapai
sekitar 80 persen.
Jembatan tersebut dibangun ulang karena konstruksi lama
berupa pasangan bata mengalami kerusakan dan tidak lagi mampu melayani
kendaraan roda empat. Struktur baru menggunakan box culvert beton bertulang
dengan bentang yang diperbesar sehingga dapat melayani lalu lintas dua arah.
Nilai kontraknya tercatat sekitar Rp772,65 juta dan bersumber dari Dana Bagi
Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
“Secara keseluruhan, pembangunan dan rehabilitasi enam
jembatan tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarkawasan
sekaligus mendukung peningkatan kemantapan infrastruktur jalan dan jembatan di
Kabupaten Kudus,” kata Supriyadi.
Dinas PUPR mencatat tingkat kemantapan jalan dan jembatan
Kabupaten Kudus saat ini berada di angka 94,01 dari sebelumnya sebesar 91,29
persen.



