KUDUS. liputankudus.id— Kecelakaan kerja terjadi di area unloading crane Pabrik Gula Rendeng (PG Rendeng), Kudus, Sabtu dini hari. Seorang pekerja meninggal dunia setelah terkena bagian crane yang mengalami insiden saat proses pengembalian sling.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.50 WIB. Saat itu, crane digunakan untuk mengangkat tebu dari bak truk untuk kemudian dipindahkan dan diletakkan di meja tebu.
Manager Teknik PG Rendeng, Yuke Aditya Asmara, menjelaskan, setelah tebu selesai diangkat dan diletakkan di meja tebu, crane kemudian bergerak kembali menuju truk untuk mengembalikan sling.
Namun, saat crane dalam proses kembali dan dalam kondisi tidak membawa muatan tebu, kawat baja crane berdiameter sekitar 19 milimeter tiba-tiba putus.
“Setelah tebu diangkat dan ditaruh di meja tebu, crane kembali ke truk untuk menaruh sling. Sebelum sampai ke bawah bak truk, kawat baja atau wire rope berdiameter 19 milimeter itu putus,” jelas Yuke.
Kawat baja yang putus tersebut kemudian mengenai bagian pinggir bak truk sebelum bergerak ke arah sisi timur dan mengenai seorang pekerja yang berada di sekitar lokasi.
Korban diketahui berinisial IW (49), warga Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. IW merupakan karyawan musiman yang bertugas sebagai operator lori di PG Rendeng.
Setelah kejadian, korban segera mendapatkan pertolongan dan dilarikan ke RS ‘Aisyiyah Kudus untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, korban mengalami luka dalam dan patah tulang setelah terkena bandul crane dalam kondisi kosong dengan berat sekitar 80 kilogram. Meski telah mendapatkan penanganan medis, nyawa IW akhirnya tidak dapat diselamatkan.
Saat kejadian, korban disebut mengenakan alat pelindung diri berupa helm keselamatan. Benturan yang dialami korban mengenai bagian belakang tubuh dan tidak mengenai kepala secara langsung.
Terkait posisi dan aktivitas korban ketika insiden terjadi, Yuke mengatakan pihak perusahaan masih melakukan pendalaman. Perusahaan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum kronologi kejadian diketahui secara utuh.
“Korban merupakan karyawan musiman di bagian operator lori. Untuk aktivitas korban saat kejadian masih kami pastikan, sehingga kami tidak ingin berspekulasi sebelum kronologinya benar-benar jelas,” katanya.
Yuke menuturkan, kejadian tersebut menjadi perhatian karena kawat baja crane putus ketika crane sedang dalam kondisi kosong, bukan saat mengangkat muatan tebu.
“Yang membuat kami heran, kawat baja tersebut putus ketika posisi crane sedang kosong, tidak sedang mengangkat beban tebu. Padahal kalau mengangkat tebu, bebannya bisa sekitar 7 sampai 8 ton,” ungkapnya.
Menurut Yuke, dalam aktivitas normal, crane digunakan untuk mengangkat tebu dari bak truk dengan beban yang dapat mencapai beberapa ton. Setelah tebu diletakkan di meja tebu, crane kemudian kembali untuk menempatkan sling pada posisi berikutnya.
Namun dalam kejadian ini, gangguan justru terjadi saat crane sedang kembali dalam kondisi tanpa membawa muatan tebu.
Pihak perusahaan kini melakukan evaluasi terhadap insiden tersebut, termasuk menelusuri kondisi kawat baja dan bagian crane yang berkaitan dengan kejadian.
Yuke mengatakan, pemeriksaan dan perawatan terhadap crane dilakukan secara berkala. Meski demikian, terkait penyebab pasti putusnya kawat baja dalam kecelakaan tersebut, pihak perusahaan masih melakukan evaluasi lebih lanjut
“Yang pasti kami akan evaluasi. Kami ingin mengetahui penyebab kejadian ini secara jelas, sehingga bisa menjadi bahan perbaikan untuk keselamatan kerja ke depan,” ujarnya.
Yuke menegaskan, evaluasi dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan kerja dalam aktivitas pengangkutan dan pemindahan tebu di area unloading crane.
Selain penanganan korban, perusahaan juga menyampaikan telah memberikan santunan serta memastikan hak-hak korban tetap diperhatikan sesuai ketentuan yang berlaku.
IW yang berstatus sebagai karyawan musiman juga tetap mendapatkan perlindungan selama masih aktif bekerja.
“Walaupun pekerjaannya musiman, selama masih aktif bekerja, hak dan pertanggungannya tetap ada,” pungkas Yuke.
Pihak perusahaan selanjutnya melakukan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut sekaligus menjadi bahan perbaikan terhadap aspek keselamatan kerja di area unloading crane PG Rendeng.


