KUDUS, liputankudus.id – Ajang Kudus Wani Tanding (KWT) X Shaduk Jotosh siap menjadi tonggak baru perkembangan olahraga combat sport di Kabupaten Kudus. Digelar di GOR Kudus pada Sabtu (25/7/2026), event ini akan menghadirkan 140 petarung dalam 70 partai dari berbagai kategori, mulai boxing, kickboxing, atlet amatir hingga influencer. Sebelum pertandingan dimulai, seluruh peserta mengikuti registrasi ulang, timbang badan (weight in), face off, dan technical meeting pada Jumat (24/7/2026).
Sejak sore hari, ratusan petarung memadati GOR Kudus untuk menyelesaikan registrasi sekaligus menjalani timbang badan sesuai kelas yang dipertandingkan. Setelah itu, mereka mengikuti sesi face off sebagai simbol kesiapan menghadapi lawan sebelum naik ring pada hari pertandingan.
Co-promotor KWT X Shaduk Jotosh, Barik Ilma Wafa, yang mendampingi Promotor Blegoh Alun Sedayu, mengatakan event ini menjadi langkah awal menghadirkan wadah resmi bagi atlet dan pecinta olahraga tarung di Kabupaten Kudus. Menurutnya, Kudus Wani Tanding baru dibentuk sekitar dua bulan lalu dan langsung berkolaborasi dengan Shaduk Jotosh untuk menggelar event perdana.
"Kudus Wani Tanding ini baru kami bentuk sekitar dua bulan lalu. Untuk event perdana, kami berkolaborasi dengan Shaduk Jotosh agar penyelenggaraannya berjalan lancar dan menjadi awal yang baik bagi perkembangan combat sport di Kudus," kata Barik Ilma Wafa.
Ia menjelaskan, tujuan penyelenggaraan KWT bukan hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga membangun ekosistem olahraga combat sport yang lebih profesional di Kudus.
"Kami tidak hanya mempertandingkan kickboxing dan boxing, tetapi juga menghadirkan kelas influencer agar olahraga combat sport semakin dikenal dan diminati masyarakat," ujarnya.
Menurut Barik, KWT memiliki visi menciptakan regenerasi atlet sekaligus menjadi wadah positif bagi generasi muda yang memiliki minat di olahraga tarung.
"Visi kami adalah melahirkan atlet-atlet kickboxing baru dan membangun regenerasi. Daripada kemampuan mereka disalurkan ke hal-hal negatif atau perkelahian di luar, lebih baik kami sediakan ring sebagai tempat menyalurkan bakat, kemampuan, dan meraih prestasi secara sportif," jelasnya.
Ia mengungkapkan, penyelenggaraan event perdana ini mendapat sambutan positif dari berbagai sasana dan komunitas olahraga tarung di Kabupaten Kudus. Dukungan tersebut menjadi modal besar untuk mengembangkan olahraga boxing dan kickboxing di daerah.
"Alhamdulillah kami mendapat dukungan penuh dari atlet-atlet pemula maupun yang sudah berpengalaman. Di Kudus ada banyak sasana yang aktif membina atlet, sehingga potensinya sangat besar untuk terus berkembang," ungkap Barik.
Dalam event perdana ini, panitia mempertandingkan empat kategori utama, yakni Influencer Class, Amatir Profesional (Ampro)/Atlet, Pemula Umum Class, serta Kickboxing. Pada kelas influencer juga diperebutkan Sabuk Shaduk Jotosh, Sabuk KWT, dan partai non-sabuk.
Secara keseluruhan terdapat 70 partai yang mempertemukan 140 petarung, terdiri atas 123 petarung putra dan 17 fighter wanita. Para petarung putri akan tampil pada kategori Influencer Class, Amatir Profesional, dan Kickboxing Putri. Seluruh pertandingan dijadwalkan berlangsung sejak pagi hingga malam hari di GOR Kudus.
Barik memastikan seluruh peserta yang bertanding telah memenuhi ketentuan usia dan menjalani proses latihan sebelum diperbolehkan naik ring.
"Peserta yang kami pertandingkan minimal berusia 17 tahun sesuai aturan. Kami tidak memperbolehkan peserta di bawah umur. Selain itu, atlet juga tidak bisa langsung bertanding. Mereka harus menjalani latihan sekitar enam sampai tujuh bulan agar benar-benar siap secara teknik, fisik, dan mental," tegasnya.
Ia berharap KWT X Shaduk Jotosh menjadi agenda rutin yang mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi sekaligus mengangkat nama Kabupaten Kudus di tingkat regional maupun nasional.
"Semua pertandingan ditentukan berdasarkan kelas berat badan sehingga setiap petarung memperoleh lawan yang seimbang. Harapan kami, KWT bisa menjadi agenda tahunan yang melahirkan atlet-atlet boxing dan kickboxing berprestasi serta menjadi kebanggaan masyarakat Kudus," pungkas Barik Ilma Wafa.



