Liputankudus.id. Kudus – Perkembangan kecerdasan buatan dan algoritma digital tidak hanya mengubah cara manusia bekerja atau berkomunikasi, tetapi juga perlahan memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri. Kegelisahan itu menjadi titik berangkat Teater Marjuki dalam pertunjukan "Kelir" yang akan dipentaskan pada Sabtu (28/6) pukul 19.30 WIB di Auditorium Universitas Muria Kudus dalam Program Serah 6 Dewan Kesenian Kudus.
Dramaturg pertunjukan, Agam Abimanyu, menjelaskan bahwa "Kelir" berupaya mengajak penonton melihat perubahan yang sering kali luput disadari. Menurutnya, persoalan paling mendasar pada masyarakat hari ini bukan semata-mata kecanggihan teknologi, melainkan bergesernya otoritas manusia dalam membentuk narasi tentang dirinya sendiri.
"Manusia adalah makhluk yang hidup melalui cerita. Kita memahami siapa diri kita dari cerita yang terus kita bangun. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah cerita itu masih benar-benar kita ciptakan, atau perlahan sudah dibentuk oleh sistem di luar diri kita," katanya.
Ia mencontohkan teknologi AI yang kini mampu mereplikasi suara dan gaya komunikasi seseorang berdasarkan rekaman digital yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Meski terdengar identik dengan pemiliknya, menilai tetap ada persoalan filosofis yang tidak dapat dijawab oleh teknologi.
"Ketika AI bisa berbicara seperti seseorang, apakah yang hadir masih orang itu, atau hanya kumpulan pola dari semua yang pernah ia ucapkan? Pertanyaan tentang kehadiran menjadi jauh lebih rumit dibanding sekadar kemampuan mesin meniru manusia," ujarnya.
Bagi Marjuki, persoalan tersebut sebenarnya telah berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melalui algoritma media digital. Ia menilai sistem digital kini tidak hanya menentukan informasi yang muncul di layar pengguna, tetapi juga membentuk cara masyarakat memandang dunia.
"Algoritma ikut menentukan cerita mana yang terus berulang, suara siapa yang paling sering terdengar, bahkan gambaran hidup seperti apa yang dianggap ideal. Pelan-pelan, ruang imajinasi manusia ikut diarahkan," katanya.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa pertunjukan melalui pendekatan **spirit puppet**. Delapan pemain tampil dengan tubuh yang seolah digerakkan oleh kekuatan lain, menghadirkan kesan bahwa terdapat jarak antara kehendak pribadi dan tindakan yang dilakukan.
Menurutnya, pilihan bentuk itu merupakan metafora atas kondisi manusia kontemporer yang tampak bebas, tetapi sering kali tanpa sadar bergerak mengikuti narasi yang telah dibangun sistem sosial maupun teknologi.
"Yang ingin kami hadirkan adalah tubuh yang masih memiliki kesadaran, tetapi tidak sepenuhnya mengendalikan dirinya. Di situ metaforanya bekerja," jelasnya.
Ia menambahkan, pemikiran Guy Debord mengenai masyarakat tontonan menjadi salah satu pijakan konseptual dalam penyusunan dramaturgi. Debord pernah mengemukakan bahwa kehidupan modern semakin dimediasi oleh citra hingga representasi terasa lebih nyata dibanding pengalaman langsung. Menurutnya, kondisi tersebut kini berkembang jauh lebih kompleks seiring hadirnya kecerdasan buatan dan ekosistem digital.
Karena itu, Teater Marjuki justru memilih panggung sebagai medium untuk menyampaikan gagasan tersebut. Berbeda dengan ruang digital yang memungkinkan segala sesuatu direkam, disunting, dan dimanipulasi, teater menghadirkan pengalaman yang hanya terjadi satu kali.
"Di atas panggung tidak ada tombol ulang. Kehadiran aktor dan penonton berlangsung pada waktu yang sama. Justru di situlah kami melihat teater tetap memiliki relevansi untuk membicarakan manusia hari ini," tuturnya.
Alih-alih menyajikan jawaban yang pasti, "Kelir" memilih mempertahankan ruang tafsir bagi penontonnya. Berharap pertunjukan ini tidak berhenti ketika lampu panggung dipadamkan, tetapi terus hidup melalui pertanyaan yang dibawa pulang oleh setiap penonton.
"Kalau setelah menonton orang mulai mempertanyakan kembali siapa yang membentuk cara mereka melihat dunia, bagi kami pertunjukan ini sudah menjalankan fungsinya," pungkasnya.
"Kelir" disutradarai Ahmad Safrudin dengan dramaturgi Agam Abimanyu dan akan diperankan oleh Davina Shereen, Laili Zakia, Shazie Ramadhani, Fitria Noor Aini, Adinda Fatikhatul, Julia Lifa, Eva S. R., serta Aisyah Rhani.



