• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Serah 5, Meruat Ruang, Ketika Ritual Bertemu Panggung Kontemporer

    LIPUTAN KUDUS 2
    5/20/26, 23:50 WIB Last Updated 2026-05-20T16:51:22Z



    Liputankudus.id. Kudus -- Pada 30 Mei 2026 mendatang, Taman Budaya Sosrokartono Kabupaten Kudus menjadi lokasi sebuah peristiwa yang tidak mudah dikategorikan: upacara ruwatan dengan barongan yang digelar Serah bersama Komunitas Kesenian Barongan Kudus di atas panggung kontemporer dalam tata ruang dan pencahayaannya, tapi ritual dalam struktur dan niatnya.


    Ruwatan dalam tradisi Jawa bukan hiburan yang kebetulan punya nama tua. Melainkan prosesi pembersihan yang bekerja dalam kerangka kosmologis: melepaskan seseorang, suatu keluarga, atau suatu tempat dari ancaman kekuatan yang dalam mitologi Jawa diyakini menempel pada kondisi-kondisi tertentu yang belum diselesaikan secara ritual. Biasanya dipimpin oleh dalang khusus yang disebut dalang ruwat, dengan lakon wayang yang spesifik, berlangsung berjam-jam tanpa penonton yang wajib bertepuk tangan. 


    Ketika barongan berjalan dalam arak-arakan, ia membawa serta kekuatan apotropaik: menolak bala, mengusir gangguan, membersihkan ruang yang akan ditempati. Bahwa dua tradisi ini bertemu dalam satu acara, di atas panggung yang secara estetik dirancang untuk dilihat, adalah sesuatu yang perlu dicermati dengan tidak terburu-buru.


    "Barongan itu sudah lama hidup di dua dunia sekaligus," ujar Dian Puspita Sari, Ketua Dewan Kesenian Kudus, ketika membicarakan konteks acara ini. "Ia diarak dalam prosesi kampung yang punya muatan spiritual, tapi juga sudah lama tampil di festival dan kompetisi. Yang terjadi 30 Mei bukan penemuan baru tapi penegasan ulang bahwa dua dunia itu tidak harus saling menghancurkan."


    Yang patut dipertanyakan, tentu saja, adalah apakah penegasan itu bisa dijaga konsisten dalam tekanan panggung. Panggung terbuka dengan program acara dan jadwal yang terstruktur bekerja dengan logikanya sendiri, logika yang tidak selalu sabar menunggu ritual selesai dengan waktunya sendiri. Dalam banyak festival seni tradisi di Indonesia, "ritual" sering kali menjadi kata kerja yang dipercepat demi kepentingan rundown.


    Taman Budaya Sosrokartono dipilih bukan tanpa pertimbangan. Sebagai ruang publik milik pemerintah kabupaten, tempat ini menyimpan sejarahnya sendiri kadang hidup, kadang sepi, sering kali lebih banyak diisi oleh acara protokoler daripada oleh denyut komunitas yang sesungguhnya. Bahwa sebuah upacara ruwatan digelar di sana pada 30 Mei adalah, dalam satu pembacaan, juga sebuah pernyataan: bahwa ruang ini perlu disambangi ulang, tidak hanya sebagai gedung yang tersedia, tapi sebagai tempat yang diakui dan dihidupi kembali oleh komunitasnya. Apakah semua yang hadir pada malam itu akan memahami seluruh lapisan maknanya? Hampir pasti tidak. Dan itu bukan kegagalan yang perlu dikoreksi. Ruwatan tidak bekerja dengan cara memastikan semua orang mengerti, ia bekerja dengan cara menghadirkan, dan membiarkan kehadiran itu bekerja dengan caranya sendiri.


    Yang menjadi ujian sesungguhnya bukan pada malam pertunjukan, tapi pada apa yang tumbuh setelahnya. Apakah barongan Kudus, komunitas seni tradisional hingga yang baru akan terus menemukan ruang untuk hidup tidak hanya dalam hajatan kampung dan fasilitasi swasta, tapi juga dalam konteks-konteks yang lebih luas tanpa kehilangan akarnya? 30 Mei adalah salah satu jawaban.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler