Liputankudus.id. Kudus, 30 Mei 2026 — Pertunjukan Barongan Gembong Kamijoyo Mbabar yang dibawakan Kelompok Seniman Barongan Kudus (KSBK) menjadi salah satu sajian utama dalam program Serah#5 yang berlangsung di Taman Budaya Sosrokartono Kudus, Sabtu (30/5) malam. Pementasan ini menghadirkan perpaduan tari, musik tradisional, teater rakyat, dan unsur ritual yang membentuk pengalaman pertunjukan yang kuat secara visual maupun simbolik.
Arena terbuka yang dikelilingi penonton dari berbagai sisi menciptakan kedekatan antara pemain dan masyarakat. Pepohonan besar yang menaungi lokasi, cahaya lampu panggung, serta nyala obor yang ditempatkan di beberapa titik memperkuat suasana sakral yang menyelimuti jalannya pertunjukan.
Pementasan mengisahkan pertarungan nilai antara kebijaksanaan dan keserakahan melalui tokoh Raden Penthul dan Gembong Kamijoyo. Konflik tersebut tidak disampaikan melalui dialog panjang, melainkan melalui simbol-simbol visual, gerak tubuh, musik, dan rangkaian ritual yang berkembang sepanjang pertunjukan.
Pertunjukan dibuka oleh seorang penari tunggal berkostum merah-putih yang tampil di hadapan deretan kepala barongan. Suasana kemudian berkembang melalui Tari Bondan yang memperkenalkan berbagai simbol dan elemen estetik yang menjadi fondasi cerita.
Intensitas pertunjukan mulai meningkat ketika prosesi pemberian menyan dilakukan di tengah arena. Asap yang mengepul perlahan menghadirkan nuansa ritual yang kuat dan menandai pergeseran suasana menuju wilayah yang lebih sakral.
Ketegangan mencapai puncaknya saat para pemain barongan mulai bergerak lebih dinamis dengan iringan musik yang semakin menghentak. Salah satu adegan yang paling menarik perhatian penonton terjadi ketika dua penari memasuki arena sambil membawa ayam putih.
Kehadiran ayam putih menjadi pusat perhatian karena tampil kontras di tengah dominasi warna merah kostum para pemain dan gelapnya suasana malam. Dalam tradisi Jawa, ayam putih kerap dikaitkan dengan simbol kesucian dan berbagai praktik ritual. Adegan tersebut menghadirkan ketegangan sekaligus kesakralan yang memperkuat makna spiritual pertunjukan.
Puncak cerita hadir melalui prosesi Pengruwatan Semesta yang memadukan unsur tari, musik, ritual, dan kehadiran barongan dalam satu kesatuan dramatik. Bagian ini menjadi simbol pemulihan keseimbangan setelah berbagai gejolak yang terjadi sebelumnya.
Energi pertunjukan kemudian bergeser melalui penampilan Tari Kuda Lumping yang menghadirkan gerak-gerak dinamis dalam formasi kelompok. Kekompakan para penari menampilkan gambaran solidaritas sebagai fondasi terciptanya harmoni sosial.
Pada bagian akhir, seluruh pemain memenuhi arena dalam formasi besar yang menggambarkan persatuan setelah melalui rangkaian konflik dan proses pengruwatan. Penonton yang sejak awal mengelilingi arena tidak lagi sekadar menjadi pengamat, melainkan turut menjadi bagian dari peristiwa budaya yang berlangsung.
Menurut penyelenggara Serah#5, Melly Ferdiani Tasmara, kehadiran KSBK dalam program ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah masyarakat.
"Barongan tidak hanya berbicara soal hiburan. Di dalamnya ada pengetahuan lokal, nilai kehidupan, dan cara masyarakat membaca hubungan antara manusia, alam, dan lingkungannya," ujar Melly.
Melalui Gembong Kamijoyo Mbabar, KSBK menghadirkan kembali konsep Jawa Memayu Hayuning Bawana, yakni upaya menjaga keharmonisan dunia melalui keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, pertunjukan ini menunjukkan bahwa seni tradisi tetap relevan sebagai ruang refleksi sosial sekaligus sarana pewarisan nilai budaya.



