Liputankudus.id. Kudus – Bencana hidrometeorologi berskala luas melanda Kabupaten Kudus sejak awal Januari 2026. Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi disertai angin kencang yang terjadi sejak 9 Januari memicu banjir, tanah longsor, hingga kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah. Hingga Selasa (14/1/2026) pukul 08.00 WIB, dampak bencana tersebut telah menyentuh puluhan ribu warga dan menelan korban jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengatakan hujan ekstrem dengan akumulasi lebih dari 500 milimeter mengguyur kawasan hulu Pegunungan Muria selama berjam-jam. Kondisi itu menyebabkan Sungai Gelis, Piji, dan Dawe meluap secara bersamaan. Luapan air mengalir ke wilayah hilir dan merendam permukiman, lahan pertanian, serta fasilitas umum di sejumlah kecamatan.
“Pemkab Kudus telah menetapkan Status Tanggap Darurat mulai 12 hingga 19 Januari 2026 untuk mempercepat penanganan di lapangan,” kata Eko.
Berdasarkan data BPBD, total warga terdampak mencapai 15.237 kepala keluarga atau 48.193 jiwa. Dalam peristiwa ini, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Korban tersebut masing-masing merupakan warga Desa Menawan Kecamatan Gebog akibat tertimbun longsor, satu korban kecelakaan air di Desa Bacin, serta seorang anak berusia lima tahun di Desa Karangbener.
Banjir dengan dampak terluas terjadi di Kecamatan Mejobo. Di Desa Kesambi, sebanyak 2.017 kepala keluarga terdampak dan sekitar 700 rumah terendam air setinggi 20 hingga 50 sentimeter. Desa Temulus juga mengalami kondisi serupa dengan 1.740 kepala keluarga terdampak, bahkan sebagian warga terpaksa mengungsi. Sementara di Desa Kirig, banjir merendam ratusan rumah sekaligus ratusan hektare sawah yang menjadi sumber penghidupan warga.
Genangan air cukup dalam juga terjadi di Kecamatan Jati dan Jekulo. Di Desa Pasuruhan Lor dan Ngembal Kulon, ketinggian air mencapai 100 sentimeter dan menggenangi fasilitas pendidikan serta tempat ibadah. Di Kecamatan Jekulo, Desa Bulung Kulon mencatat ketinggian air paling variatif, mulai 20 hingga 125 sentimeter, yang menyebabkan aktivitas warga lumpuh total.
Kecamatan Kaliwungu tak luput dari dampak. Desa Setrokalangan dan Kedungdowo terendam air setinggi 70 hingga 100 sentimeter. Ratusan rumah warga serta fasilitas umum terdampak banjir yang datang secara cepat.
Selain banjir, bencana tanah longsor terjadi di wilayah perbukitan. Di Kecamatan Dawe, BPBD mencatat sedikitnya 18 titik longsor, termasuk di Desa Japan dan Desa Colo. Longsor terparah terjadi di kawasan wisata religi Sunan Muria, Desa Colo, ketika jembatan portal ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 20 meter. Insiden tersebut menyebabkan dua mobil masuk ke sungai, meski seluruh penumpangnya berhasil selamat.
Di Kecamatan Gebog, longsor terjadi di 21 titik yang tersebar di Desa Menawan dan Rahtawu. Salah satu longsor di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, merenggut nyawa seorang warga perempuan berusia 45 tahun. Selain itu, beberapa jembatan penghubung antardukuh dilaporkan retak dan berpotensi ambrol.
Cuaca ekstrem juga memicu pohon tumbang di 11 titik di wilayah Dawe, Gebog, Kaliwungu, Jati, dan Kota Kudus. Sejumlah akses jalan sempat tertutup, bahkan ada kendaraan warga yang tertimpa pohon dan menyebabkan satu orang luka ringan.
Dalam penanganan darurat, BPBD Kudus bersama TNI, Polri, dan relawan fokus pada evakuasi warga rentan, terutama lansia dan anak-anak. Sebanyak 164 jiwa kini mengungsi di dua lokasi, yakni TPQ Khurriyatul Fikri di Desa Pasuruhan Lor dan MI Hidayatus Shibyan di Desa Temulus. Dapur umum telah diaktifkan di tujuh titik untuk memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi.
Meski debit air di Bendung Klambu dan Wilalung mulai menunjukkan tren penurunan, BPBD mengingatkan potensi bencana susulan masih ada. Saat ini, kebutuhan mendesak di lapangan meliputi tambahan plastik mika, ribuan karung, alat berat berukuran kecil, serta tanah urug untuk penanganan longsor dan penguatan tanggul darurat. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan petugas.


