Liputankudus. Kudus — Banjir kembali melanda Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama hampir empat hari terakhir membuat air kembali meluap dan merendam permukiman warga.
Kondisi ini memperpanjang rangkaian bencana banjir yang sebelumnya juga terjadi di sejumlah wilayah Kudus akibat curah hujan tinggi dan kiriman air dari wilayah utara.
Ketua RT 2 RW 4 Desa Tanjungkarang, Arwani, mengatakan genangan air mulai naik sejak Jumat malam. Sekitar pukul 21.00 WIB, air perlahan masuk ke lingkungan permukiman dan terus meningkat hingga Sabtu.
“Mulainya dari malam, kira-kira jam sembilan. Sampai sekarang masih tergenang,” ujarnya Kamis (15/1/2026).
Ketinggian air di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 40 hingga 50 sentimeter. Genangan tidak hanya terjadi di halaman rumah, tetapi juga masuk ke dalam rumah warga. Arwani menyebut, di lingkungan RT yang dipimpinnya terdapat sekitar 50 rumah yang terdampak banjir.
“Banyak yang kemasukan air, hampir satu lingkungan,” katanya.
Selain permukiman, banjir juga menggenangi Jalan Raya Kudus–Purwodadi. Akibatnya, aktivitas warga dan pengguna jalan terganggu. Akses masyarakat menjadi terbatas dan sebagian wilayah sempat lumpuh karena genangan air yang cukup tinggi.
“Ya agak lumpuh lah. Mau ke mana-mana susah,” ungkap Arwani.
Sebagian warga memilih mengungsi ke Balai Desa Tanjungkarang untuk sementara waktu. Meski tidak semua warga mengungsi, balai desa disiapkan sebagai lokasi penampungan bagi warga yang rumahnya tidak lagi aman untuk ditempati.
“Ada yang mengungsi di balai desa. Yang mau mengungsi bisa ke situ,” jelasnya.
Menurut Arwani, banjir di Tanjungkarang merupakan kejadian yang berulang hampir setiap tahun. Namun, setelah dibangunnya embung, dampak banjir dinilai mulai berkurang.
“Kalau dibandingkan dulu, sekarang sudah berkurang. Hampir 50 persen lebih. Lumayan ada pengurangan,” katanya.
Meski demikian, banjir kali ini tetap dirasakan mengganggu. Arwani menyebut banjir kali ini terjadi akibat hujan deras yang berlangsung beberapa hari berturut-turut, ditambah kondisi wilayah yang memang menjadi langganan genangan saat musim hujan.
“Biasanya setahun sekali banjir, tapi tidak separah ini. Ini juga sebenarnya tidak terlalu parah, tapi karena hujannya lama,” pungkasnya.



