• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Serah 2, Ketika Remaja Kudus Masih Menulis

    LIPUTAN KUDUS 2
    2/24/26, 20:58 WIB Last Updated 2026-02-24T14:02:22Z





    Liputankudus.id. Kudus – Di tengah arus informasi yang bergerak cepat dan budaya instan yang kian terfragmentasi, sebuah premis sederhana menjadi pijakan penyelenggaraan SERAH 2 – Ruang Sastra, bahwa jika remaja Kudus masih menulis, membaca, dan berdiskusi sastra, maka ruang refleksi dan daya kritis di kota ini masih hidup.


    Premis itu akan diuji sekaligus dirayakan pada 28 Februari 2026 pukul 19.30 WIB di RKKBR, Kudus. Kegiatan yang digagas oleh Dewan Kesenian Kudus ini nantinya tidak hanya menghadirkan pembacaan puisi musikal dan diskusi karya, tetapi juga menjadi forum untuk melihat denyut persoalan generasi muda melalui teks-teks yang mereka ciptakan.


    Sejak awal, SERAH 2 dirancang sebagai ruang temu, ruang baca, dan ruang dialog. Remaja diharapkan bisa tampil membacakan karya, tetapi juga membuka proses untuk menceritakan latar pengalaman, kegelisahan, dan pencarian yang melahirkan tulisan mereka. 


    Ketua Dewan Kesenian Kudus, Dian Puspita Sari, menilai bahwa aktivitas menulis dan membaca sastra di kalangan remaja merupakan indikator penting kesehatan kebudayaan sebuah kota. 


    “Ketika remaja masih mau menulis dan mendiskusikan gagasannya, itu berarti mereka masih mau berpikir, mempertanyakan, dan merefleksikan realitas di sekitarnya,” ujarnya.


    Di tangan generasi muda, sastra bisa tampil dengan spektrum yang beragam. Tema identitas, relasi keluarga, kritik sosial, hingga spiritualitas muncul berdampingan dengan persoalan keseharian yang dekat dengan pengalaman mereka. Bisa jadi bentuknya pun tidak tunggal. Selain puisi liris dan cerpen konvensional seperti ada kecenderungan karya hibrid yang lahir dari interaksi dengan media sosial dan ruang digital.


    Misalnya kita bisa melihat di hari ini bahwa ekosistem sastra di Kudus bisa bergerak dinamis. Karya bisa lahir dari platform daring, dipentaskan di ruang komunitas, lalu kembali menyebar melalui jejaring digital. Pola ini memperlihatkan bahwa ruang fisik dan ruang virtual tidak lagi terpisah tegas dalam praktik kesusastraan remaja.


    Menurutnya, SERAH 2 ingin membaca sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana remaja memaknai hidupnya hari ini. Dalam setiap teks, tersimpan jejak pengalaman dan cara pandang terhadap dunia. Di situlah sastra berfungsi sebagai cermin sosial. Forum ini juga diharapkan menjadi ruang aman bagi remaja untuk menyuarakan gagasan. Di tengah tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan derasnya arus opini publik, sastra memberi ruang untuk berhenti dan menyusun ulang pengalaman menjadi makna.


    " Upaya pengkajian yang dilakukan dalam SERAH 2 kali ini menjadi langkah awal untuk melihat kecenderungan karya remaja Kudus. Hasil pembacaan ini nantinya dapat menjadi dasar strategi berecakap yang lebih relevan dan berkelanjutan. " tegasnya.


    Akhirnya, dalam agenda Serah ke 2 ini bisa menjadi penanda bahwa kebudayaan kota masih berdenyut melalui generasi mudanya. Selama remaja Kudus masih menulis, membaca, dan berdiskusi sastra, ruang refleksi itu belum padam dan daya kritis kota ini tetap menemukan tempat untuk tumbuh.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler