Kudus. liputankudus.id. --- Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan aksi nyata melalui Projek Kepemimpinan bertajuk “Eco Action: Gerakan Bersama dalam Pengelolaan Sampah dan Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga” di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Kegiatan yang mengusung tema pemberdayaan masyarakat dan kepedulian lingkungan tersebut dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan pada September 2026 dengan melibatkan masyarakat, ibu-ibu PKK, anak-anak, serta pengurus lingkungan RT/RW. Projek ini menjadi bentuk pengabdian mahasiswa PPG UMK sekaligus praktik kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian masalah nyata di masyarakat.
Berawal dari Persoalan Sampah Rumah Tangga
Pemilihan Desa Jati Wetan sebagai lokasi projek dilatarbelakangi kondisi pengelolaan limbah rumah tangga yang masih menghadapi sejumlah tantangan. Berdasarkan observasi dan wawancara awal, mahasiswa menemukan masih rendahnya kesadaran pemilahan sampah, ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, serta belum optimalnya pemanfaatan barang bekas menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomi.
Sampah organik dan anorganik masih ditemukan tercampur. Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai masih cukup dominan dan potensi barang bekas seperti tutup botol maupun bahan sisa rumah tangga belum dimanfaatkan secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa PPG UMK tidak hanya memberikan edukasi, tetapi merancang kegiatan yang memungkinkan masyarakat belajar sekaligus menghasilkan karya secara langsung. Konsep tersebut diwujudkan melalui empat rangkaian kegiatan utama, yaitu edukasi pemilahan sampah, pembuatan tong sampah terpilah dari galon bekas, pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas, dan pelatihan ecoprint totebag.
Dari Edukasi Sampah hingga Ecoprint
Rangkaian kegiatan Eco Action dimulai dengan sosialisasi penguraian dan pemilahan sampah kepada warga RT 02/RW 03. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan informasi mengenai waktu penguraian berbagai jenis sampah, dampak pembakaran plastik, serta cara membedakan sampah organik dan anorganik.
Sebagai pengingat berkelanjutan, mahasiswa juga memasang dua plang infografis di lingkungan warga. Kegiatan sosialisasi diikuti oleh 22 ibu-ibu PKK dari sasaran 25 KK.
Aksi berikutnya berupa pembuatan tong sampah terpilah organik dan anorganik dengan memanfaatkan galon air mineral bekas. Sebanyak 6 pasang atau 12 unit tong sampah berhasil dibuat dan ditempatkan di sejumlah fasilitas publik, gang warga, serta sekitar balai pertemuan desa.
Galon bekas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diubah menjadi fasilitas pengelolaan sampah yang dapat digunakan masyarakat. Tong tersebut diberi penanda warna dan stiker edukasi untuk membantu warga membedakan sampah organik dan anorganik.
Tidak hanya menyasar orang dewasa, Eco Action juga melibatkan anak-anak melalui kegiatan pembuatan gantungan kunci dari tutup botol bekas. Sebanyak 31 anak RT 02/RW 03 mengikuti kegiatan tersebut. Tutup botol bekas diolah menjadi gantungan kunci dan setiap peserta membawa pulang sedikitnya satu hasil karya.
Sementara itu, ibu-ibu PKK mendapatkan pelatihan ecoprint totebag ramah lingkungan. Peserta mempraktikkan proses mulai dari persiapan kain, penataan daun, teknik pounding, hingga fiksasi warna. Setiap peserta yang mengikuti kegiatan menghasilkan satu totebag ecoprint yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti kantong plastik sekali pakai.
Hadirkan Karya, Bukan Sekadar Sosialisasi
Ketua Pelaksana Projek Eco Action, Khairul Huda, bersama tim menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai pelaku utama dalam setiap kegiatan.
Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan kepemimpinan yang memberdayakan, di mana mahasiswa berperan sebagai fasilitator dan masyarakat diberi ruang untuk terlibat langsung dalam proses perubahan.
Melalui pendekatan praktik langsung, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga menghasilkan berbagai karya dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan setelah kegiatan berakhir.
Secara keseluruhan, projek menghasilkan dua plang infografis edukasi, 12 tong sampah terpilah, sedikitnya 31 gantungan kunci dari tutup botol bekas, serta totebag ecoprint hasil pelatihan.
Mendorong Dampak Sosial, Lingkungan, dan Ekonomi
Projek Eco Action memberikan sejumlah dampak bagi masyarakat. Dari sisi sosial, kegiatan memperkuat kebersamaan melalui gotong royong antara mahasiswa, ibu-ibu PKK, anak-anak, dan pengurus lingkungan.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan 12 galon bekas menjadi tong sampah dan sedikitnya 150 tutup botol bekas menjadi bahan gantungan kunci menjadi contoh sederhana bahwa limbah rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali.
Sementara dari sisi ekonomi, keterampilan membuat ecoprint dan kerajinan dari tutup botol membuka peluang untuk mengembangkan produk yang memiliki nilai jual dan berpotensi mendukung ekonomi keluarga.
Bagi mahasiswa PPG, kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar kepemimpinan secara langsung. Mahasiswa berlatih berkomunikasi dengan masyarakat lintas usia, bekerja dalam tim, mengelola waktu dan anggaran, melakukan koordinasi, serta beradaptasi dengan kondisi di lapangan.
Tantangan Menjadi Bagian dari Proses Kepemimpinan
Pelaksanaan projek tidak terlepas dari berbagai tantangan. Kesibukan warga dan jadwal perkuliahan mahasiswa membuat tim perlu menyesuaikan waktu kegiatan. Tim juga menghadapi kendala teknis dalam pengolahan galon bekas, keamanan saat proses pemanfaatan tutup botol, perbedaan tingkat pemahaman peserta, serta keterbatasan bahan dan anggaran.
Namun, berbagai kendala tersebut diselesaikan melalui koordinasi, musyawarah, penyesuaian waktu, penggunaan bahasa yang sederhana, demonstrasi langsung, serta pemanfaatan bahan yang tersedia.
Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti memberikan instruksi. Kepemimpinan juga berarti mendengarkan, mendampingi, memberikan ruang kepada orang lain untuk berpartisipasi, dan memastikan tujuan bersama dapat tercapai.
Testimoni Dosen dan Warga tentang Eco Action
Kehadiran Eco Action mendapat tanggapan positif dari dosen maupun warga yang terlibat langsung dalam kegiatan.
Dosen PPG UMK, Bapak Arsyad, menilai projek ini sebagai contoh penerapan kepemimpinan yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya datang membawa teori, tetapi benar-benar turun, mendengarkan warga, lalu menyusun kegiatan yang bisa langsung dirasakan manfaatnya. Inilah wujud kepemimpinan yang memberdayakan, dan saya berharap pendekatan seperti ini terus dipertahankan,” ujarnya.
Salah satu peserta sosialisasi, Bapak Solikhul Mustaqim, pengurus RT setempat, menceritakan kondisi sebelum dan sesudah kegiatan. “Sebelum ada kegiatan ini, pengelolaan sampah di lingkungan warga masih minim. Sampah organik dan anorganik sering dicampur begitu saja, jarang dipilah, dan pembakaran sampah secara terbuka masih kami temui. Setelah ada edukasi dan pendampingan dari adik-adik mahasiswa, warga mulai memahami pentingnya memilah sampah, tong sampah berwarna untuk organik dan anorganik juga sudah tersedia, dan kebiasaan membakar sampah sembarangan pun berkurang,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ibu Rofiatun, peserta pelatihan ecoprint sekaligus anggota PKK. Menurutnya, bagian kegiatan yang paling bermanfaat adalah praktik langsung pemilahan sampah dan sosialisasi pengurangan kantong plastik melalui penggunaan totebag. “Warga tidak hanya mendengarkan teori, tetapi langsung melihat dan mempraktikkan cara mengelola sampah rumah tangga dengan benar. Perubahan positif mulai terlihat, sebagian warga kini membiasakan diri memilah sampah sesuai jenisnya dan membawa totebag saat berbelanja untuk mengurangi kantong plastik sekali pakai,” katanya.
Dari kalangan anak-anak, Bisma, salah satu peserta pembuatan gantungan kunci, mengaku senang bisa membuat karya dari barang bekas. “Seru, ternyata tutup botol bekas bisa jadi gantungan kunci yang bagus. Nanti mau bikin lagi di rumah,” ungkapnya.
Sementara itu, Bapak Toyyib sebagai Ketua RW menyambut baik keberadaan tong sampah terpilah dari galon bekas, sekaligus menyampaikan sejumlah kendala di lapangan. “Kendala utamanya adalah kurangnya konsistensi sebagian warga dalam membiasakan memilah sampah dari rumah, kebiasaan lama yang cukup sulit diubah secara instan, serta keterbatasan sarana pendukung jangka panjang, seperti fasilitas pengangkutan sampah terpilah dan perawatan tong sampah,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan, Bapak Toyyib menyebut pemerintah desa, RT, dan PKK berencana mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam kegiatan rutin, memantau kondisi dan kebersihan tong sampah secara berkala, serta mengingatkan warga secara konsisten agar tetap memilah sampah dan membawa kantong belanja sendiri. “Kami berharap program pendampingan dapat dilakukan secara berkala dan berkelanjutan agar pembiasaan warga benar-benar terbentuk. Tokoh masyarakat juga perlu dilibatkan lebih intensif agar sosialisasi bisa menjangkau seluruh lapisan warga secara efektif,” harapnya.
Menuju Desa yang Lebih Bersih dan Berdaya
Evaluasi projek menunjukkan bahwa sebagian besar target fisik berhasil diwujudkan. Dua plang edukasi dan 12 tong sampah terpilah tercapai 100 persen, sementara kegiatan gantungan kunci juga mencapai target dengan melibatkan 31 anak. Sosialisasi mencapai 88 persen dari sasaran, sedangkan pelatihan ecoprint diikuti 12 peserta dari target 25 peserta.
Meskipun belum seluruh target peserta tercapai, kegiatan tersebut memberikan pengalaman penting bagi mahasiswa dan masyarakat. Hasil evaluasi menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan berikutnya serta memastikan hasil projek dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.
Keberlanjutan menjadi bagian penting dari Eco Action. Tong sampah dan plang edukasi direncanakan untuk dirawat bersama oleh pengurus RT/RW dan PKK sehingga hasil projek tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan.
Melalui Eco Action, mahasiswa PPG UMK menunjukkan bahwa projek kepemimpinan dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pendidikan, kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian lingkungan.
Bagi mahasiswa, projek ini bukan sekadar menyelesaikan tugas perkuliahan. Lebih dari itu, Eco Action menjadi pengalaman untuk belajar memimpin melalui aksi nyata dan memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat dengan melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari proses tersebut.
Eco Action menjadi bukti bahwa ketika mahasiswa bergerak bersama masyarakat, limbah dapat diubah menjadi karya, pengetahuan dapat diubah menjadi tindakan, dan sebuah projek kecil dapat menjadi langkah awal menuju lingkungan yang lebih bersih, kreatif, dan berdaya.0




