• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Benny Haryanto Ubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Setara Bensin dengan Alat Bekas

    Noer
    10/08/26, 12:13 WIB Last Updated 2026-10-08T05:13:33Z

     

    Benny merakit alat mini pirolisis yang digunakan untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar setara bensin. (Foto: Istimewa)

    KUDUS, liputankudus.id – Tumpukan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru menjadi sumber ide bagi Benny Haryanto (49), warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dari bahan-bahan bekas yang ada di sekitarnya, Benny merakit alat mini pirolisis yang digunakan untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar setara bensin.

     

    Benny membuat sendiri alat tersebut dengan memanfaatkan berbagai barang bekas. Kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk, toples, galon, hingga oli bekas disulap menjadi rangkaian alat sederhana untuk mengolah sampah plastik.

     

    “Di sini banyak sampah plastik. Saya tertarik untuk melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini masih dalam tahap percobaan. Belum saya gunakan ke sepeda motor,” kata Benny, Rabu (7/10).

     

    Inovasi tersebut tidak langsung menghasilkan bahan bakar siap digunakan. Sampah plastik terlebih dahulu melalui proses pembakaran untuk menghasilkan minyak mentah. Minyak tersebut kemudian disuling kembali hingga menghasilkan cairan yang memiliki karakteristik seperti bensin.

     

    Dalam percobaannya, Benny baru menguji hasil bahan bakar tersebut dengan membakarnya menggunakan korek api. Cairan itu dapat terbakar. Ia berencana melakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakannya pada sepeda motor.


     Alat mini pirolisis pertama yang dibuat Benny berfungsi mengubah sampah plastik menjadi minyak mentah. Sampah plastik dimasukkan ke dalam kaleng biskuit, kemudian dipanaskan. Uap yang dihasilkan dialirkan melalui pipa menuju alat pendingin yang dibuat dari kaleng obat nyamuk bekas.

     

    “Kaleng obat nyamuk ini fungsinya sebagai pendingin. Ini saya lubangi untuk dimasukkan es. Fungsinya mengubah uap menjadi cairan,” terangnya.

     

    Uap yang telah berubah menjadi cairan kemudian ditampung di dalam toples bekas. Cairan tersebut belum langsung digunakan sebagai bahan bakar, melainkan harus melalui proses penyulingan tahap berikutnya.

     

    Pada alat mini pirolisis kedua, minyak mentah dimasukkan ke dalam toples berukuran kecil. Cairan itu kemudian dipanaskan menggunakan kompor listrik mini. Dari proses tersebut, cairan hasil penyulingan menetes dan ditampung menggunakan botol saus bekas berukuran mini.

     

    Untuk menghasilkan minyak mentah dari sampah plastik, Benny membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sedangkan proses penyulingan minyak mentah hingga menjadi bahan bakar setara bensin membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

     

    Dari satu kaleng biskuit yang diisi sekitar 0,3 kilogram sampah plastik, Benny bisa menghasilkan bahan bakar setara bensin sekitar 40 mililiter.

    “Hasilnya memang masih sedikit karena saya menggunakan alat mini pirolisis yang saya buat sendiri. Kalau ada alat pirolisis yang besar, hasil bahan bakar setara bensinnya juga bisa lebih banyak,” jelasnya.

     

    Bagi Benny, eksperimen tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi persoalan sampah di lingkungan sekitar. Melalui Bank Sampah Karya Lestari yang dikelolanya, sampah yang diterima saat ini merupakan sampah anorganik.

     

    Sementara untuk sampah organik, Benny bekerja sama dengan Kudus Asik yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Kerja sama tersebut telah berjalan sejak Mei 2026 karena persoalan sampah organik di Desa Rendeng masih cukup banyak.

     

    “Sampah organiknya kerja sama dengan Kudus Asik sudah sejak Mei 2026. Alasannya karena sampah organik di Desa Rendeng masih banyak,” ujarnya.

     

    Benny berharap pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun pengelola bank sampah. Menurutnya, masyarakat juga dapat mengambil peran sederhana dengan mulai memilah sampah dari rumah.

     

    “Harapan saya tentu warga mau memilah sampah, karena sampah kan ada organik dan anorganik,” katanya.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler