![]() |
| Benny merakit alat mini pirolisis yang digunakan untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar setara bensin. (Foto: Istimewa) |
KUDUS, liputankudus.id –
Tumpukan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru
menjadi sumber ide bagi Benny Haryanto (49), warga Desa Rendeng, Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dari bahan-bahan bekas yang ada di
sekitarnya, Benny merakit alat mini pirolisis yang digunakan untuk mengolah
sampah plastik menjadi bahan bakar setara bensin.
Benny membuat sendiri alat tersebut dengan memanfaatkan
berbagai barang bekas. Kaleng biskuit, kaleng obat nyamuk, toples, galon,
hingga oli bekas disulap menjadi rangkaian alat sederhana untuk mengolah sampah
plastik.
“Di sini banyak sampah plastik. Saya tertarik untuk
melakukan inovasi mengubah plastik ini menjadi bensin. Walaupun sampai saat ini
masih dalam tahap percobaan. Belum saya gunakan ke sepeda motor,” kata Benny,
Rabu (7/10).
Inovasi tersebut tidak langsung menghasilkan bahan bakar
siap digunakan. Sampah plastik terlebih dahulu melalui proses pembakaran untuk
menghasilkan minyak mentah. Minyak tersebut kemudian disuling kembali hingga
menghasilkan cairan yang memiliki karakteristik seperti bensin.
Dalam percobaannya, Benny baru menguji hasil bahan bakar
tersebut dengan membakarnya menggunakan korek api. Cairan itu dapat terbakar.
Ia berencana melakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakannya pada sepeda
motor.
Alat mini pirolisis pertama yang dibuat Benny berfungsi mengubah sampah plastik menjadi minyak mentah. Sampah plastik dimasukkan ke dalam kaleng biskuit, kemudian dipanaskan. Uap yang dihasilkan dialirkan melalui pipa menuju alat pendingin yang dibuat dari kaleng obat nyamuk bekas.
“Kaleng obat nyamuk ini fungsinya sebagai pendingin. Ini
saya lubangi untuk dimasukkan es. Fungsinya mengubah uap menjadi cairan,”
terangnya.
Uap yang telah berubah menjadi cairan kemudian ditampung
di dalam toples bekas. Cairan tersebut belum langsung digunakan sebagai bahan
bakar, melainkan harus melalui proses penyulingan tahap berikutnya.
Pada alat mini pirolisis kedua, minyak mentah dimasukkan
ke dalam toples berukuran kecil. Cairan itu kemudian dipanaskan menggunakan
kompor listrik mini. Dari proses tersebut, cairan hasil penyulingan menetes dan
ditampung menggunakan botol saus bekas berukuran mini.
Untuk menghasilkan minyak mentah dari sampah plastik,
Benny membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sedangkan proses penyulingan minyak
mentah hingga menjadi bahan bakar setara bensin membutuhkan waktu sekitar 30
menit.
Dari satu kaleng biskuit yang diisi sekitar 0,3 kilogram
sampah plastik, Benny bisa menghasilkan bahan bakar setara bensin sekitar 40
mililiter.
“Hasilnya memang masih sedikit karena saya menggunakan
alat mini pirolisis yang saya buat sendiri. Kalau ada alat pirolisis yang
besar, hasil bahan bakar setara bensinnya juga bisa lebih banyak,” jelasnya.
Bagi Benny, eksperimen tersebut juga menjadi bagian dari
upaya mengurangi persoalan sampah di lingkungan sekitar. Melalui Bank Sampah
Karya Lestari yang dikelolanya, sampah yang diterima saat ini merupakan sampah
anorganik.
Sementara untuk sampah organik, Benny bekerja sama dengan
Kudus Asik yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Kerja sama
tersebut telah berjalan sejak Mei 2026 karena persoalan sampah organik di Desa
Rendeng masih cukup banyak.
“Sampah organiknya kerja sama dengan Kudus Asik sudah
sejak Mei 2026. Alasannya karena sampah organik di Desa Rendeng masih banyak,”
ujarnya.
Benny berharap pengelolaan sampah tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah maupun pengelola bank sampah. Menurutnya, masyarakat
juga dapat mengambil peran sederhana dengan mulai memilah sampah dari rumah.
“Harapan saya tentu warga mau memilah sampah, karena
sampah kan ada organik dan anorganik,” katanya.

.jpeg)

