KUDUS. liputankudus.id – Seorang pendaki asal Kabupaten Rembang, Achmad Alif Lutfian Fahmi (32), meninggal dunia secara mendadak saat melakukan pendakian di kawasan Gunung Muria, tepatnya jalur menuju Puncak 29, turut Pos Petilasan Eyang Pandu, Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Senin (7/9/2026) malam
Korban yang merupakan warga Desa Sridadi, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, diketahui meninggal sekitar pukul 22.00 WIB setelah sebelumnya mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas saat perjalanan menuju puncak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban bersama rombongan terlebih dahulu melakukan registrasi pendakian sekitar pukul 17.15 WIB. Setelah itu, korban melanjutkan perjalanan melalui jalur pendakian yang tersedia.
Sekitar pukul 20.00 WIB, korban bersama rombongan berhenti sejenak setelah melewati Pos 4. Saat itu, korban sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya kepada salah satu saksi, Agustin Eka Kristiana (21).
Korban mengaku merasakan nyeri di bagian dada dan sesak napas. Meski demikian, korban masih berusaha melanjutkan pendakian bersama rombongan.
Sekitar pukul 21.45 WIB, rombongan tiba di sekitar Pos 5 atau Petilasan Eyang Pandu dan melanjutkan perjalanan menuju Pos 6.
Namun, tidak jauh dari lokasi tersebut, korban tiba-tiba pingsan dan tergeletak dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Melihat kejadian tersebut, saksi panik dan meminta bantuan kepada saksi lainnya, Zaenal Abidin (33). Upaya pertolongan dilakukan dengan memberikan bantuan napas kepada korban.
Namun, sekitar pukul 22.00 WIB, korban dinyatakan tidak tertolong. Saat diperiksa, korban sudah tidak memiliki denyut nadi maupun tanda-tanda kehidupan.
Saksi kemudian turun dari jalur pendakian untuk meminta bantuan kepada tim SAR dan relawan. Korban selanjutnya dievakuasi menuju bawah dan dibawa ke RSUD dr. Loekmonohadi Kudus.
Setelah tiba, dilakukan pemeriksaan luar oleh Unit Inafis Polres Kudus bersama dr. Besar Wahyu, Kepala Puskesmas Gondosari.
Dari hasil pemeriksaan luar tersebut, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Jenazah selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Kabupaten Rembang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pendaki untuk memperhatikan kondisi kesehatan sebelum dan selama melakukan aktivitas pendakian, serta tidak memaksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan di tengah perjalanan.


