![]() |
| Kegiatan tersebut digelar setelah para jurnalis melihat dampak kekeringan yang semakin dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Demak. (Foto: Noer*) |
DEMAK, liputankudus.id -- Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di
Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mendorong berbagai pihak turun tangan membantu
warga terdampak. Salah satunya dilakukan jurnalis televisi yang tergabung dalam
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya.
Para jurnalis tersebut menyisihkan sebagian penghasilan
mereka untuk membeli dan menyalurkan air bersih melalui kegiatan bertajuk
“Jurnalis TV Patungan Sedekah Air Bersih”. Bantuan disalurkan kepada warga Desa
Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, Demak, Rabu (2/9/2026).
Sebanyak tiga truk tangki air bersih didistribusikan
dalam kegiatan tersebut. Masing-masing truk membawa 5.000 liter air, sehingga
total bantuan yang disalurkan mencapai 15.000 liter.
Koordinator kegiatan, Ismail, mengatakan bantuan tersebut
merupakan bentuk kepedulian jurnalis yang sehari-hari melakukan peliputan di
wilayah Demak.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian
teman-teman jurnalis TV yang bertugas di Kabupaten Demak. Kami berharap bantuan
ini mampu meringankan beban warga yang terdampak kekeringan,” ujar Ismail.
Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Miftakhudin,
mengatakan kegiatan tersebut digelar setelah para jurnalis melihat dampak
kekeringan yang semakin dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Demak.
“Bakti sosial ini adalah wujud empati jurnalis terhadap
kondisi masyarakat saat ini yang terdampak fenomena El Nino,” tutur Iwhan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Kabupaten Demak, kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan dan
menyebabkan kesulitan air bersih di 21 desa yang tersebar di delapan kecamatan.
Jumlah warga yang terdampak mencapai 33.537 jiwa.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Demak,
Suprapto, mengatakan sumber air warga mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
“Saat ini sudah 21 desa yang terdampak kesulitan air
bersih. Hal ini terjadi karena fasilitas Pamsimas dan sumur warga sudah tidak
mampu lagi mencukupi kebutuhan harian,” jelas Suprapto.
Kondisi tersebut juga dirasakan warga Desa Ngaluran.
Rodiah, salah seorang warga setempat, mengatakan sumur di wilayahnya telah
mengering sehingga warga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
Menurut dia, dalam sebulan warga dapat mengeluarkan
sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 untuk membeli air isi ulang, terutama untuk
kebutuhan memasak dan minum.
“Senang sekali ada bantuan ini. Sudah tiga bulan di sini
sulit air bersih, dan akhir-akhir ini makin parah. Biasanya kami terpaksa beli
air galon isi ulang. Adanya bantuan ini tentu sangat meringankan beban kami,”
kata Rodiah.
Penyaluran air bersih di Desa Ngaluran juga dilakukan
melalui kolaborasi IJTI Korda Muria Raya dengan Balai Besar Wilayah Sungai
(BBWS), Kodim 0716/Demak, dan BPBD Kabupaten Demak.
Dalam penyaluran pada hari yang sama, terdapat delapan
truk tangki yang mendistribusikan total 40.000 liter air bersih kepada warga.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi
kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan. Di tengah kondisi
tersebut, distribusi air diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan
dasar sekaligus mengurangi beban pengeluaran untuk mendapatkan air bersih.


.jpeg)
