KUDUS. liputankudus.id. – Sumur Gentong di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, bukan sekadar sumber air tua yang berada di tengah permukiman warga. Situs tersebut menyimpan cerita sejarah, temuan benda kuno, hingga kisah yang dipercaya masyarakat secara turun-temurun.
Juru Kunci Sumur Gentong, Bapak Norkhayadi, mengatakan keberadaan situs tersebut mulai ditemukan sekitar tahun 1989. Beberapa tahun setelah ditemukan, Sumur Gentong sempat mendapatkan perhatian dari pihak Dinas Kebudayaan dan pernah dicagarbudayakan.
Namun, seiring berjalannya waktu, status pencatatan tersebut sempat tidak berlanjut. Menurut Norkhayadi, hal itu terjadi karena adanya pergantian kepala dinas serta perubahan aturan mengenai cagar budaya.
Setelah dirinya dipercaya menjadi juru kunci, Norkhayadi kembali berupaya mengenalkan keberadaan situs tersebut kepada pemerintah. Ia beberapa kali memenuhi undangan dari dinas untuk memberikan keterangan mengenai sejarah Sumur Gentong.
“Mulai awal sudah dicagarbudayakan oleh pihak dinas kebudayaan. Tapi lama-kelamaan ternyata tidak terdaftar lagi. Setelah saya menjadi juru kunci, saya berusaha lagi supaya dimasukkan ke dinas,” kata Norkhayadi.
Menurutnya, saat ini yang mendapatkan perhatian sebagai benda cagar budaya baru gentongnya. Ia berharap sumber air atau sumurnya juga dapat dicatat dan dilestarikan sebagai bagian dari situs bersejarah tersebut.
Selain nilai sejarah, Sumur Gentong juga memiliki cerita yang kuat di tengah masyarakat. Sejak pertama kali ditemukan, banyak warga datang untuk mengambil air dari sumur tersebut. Sebagian masyarakat meyakini air Sumur Gentong memiliki manfaat tertentu.
Norkhayadi menuturkan, sejumlah warga yang datang dalam kondisi sakit mengaku mengalami kesembuhan setelah meminum atau menggunakan air dari Sumur Gentong. Bahkan, ada pula yang datang dengan kondisi lumpuh dan kemudian mengaku dapat berjalan kembali setelah menggunakan air tersebut.
“Ini keyakinan masyarakat. Ada yang sakit kemudian minum air, alhamdulillah sembuh. Ada yang lumpuh atau stroke, setelah dimandikan katanya bisa berjalan,” ujarnya.
Meski demikian, Norkhayadi menegaskan bahwa kepercayaan tersebut merupakan keyakinan pribadi masing-masing masyarakat.
“Masalah manfaat itu keyakinan seseorang. Semua itu dari izin Allah,” katanya.
Ramainya masyarakat yang datang ke Sumur Gentong pada masa lalu juga memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebagian uang yang terkumpul kemudian digunakan untuk membantu pembangunan masjid.
Tak hanya cerita mengenai air, Sumur Gentong juga menyimpan kisah tentang penemuan sejumlah koin kuno. Norkhayadi menyebut di sekitar kawasan sumur pernah ditemukan banyak koin yang diyakini terbuat dari emas dan perak.
“Banyak sekali koin emas. Benar-benar emas, bukan palsu. Ada juga perak,” ungkapnya.
Menurut Norkhayadi, temuan koin tersebut bahkan pernah mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah dan dokumentasinya pernah dimuat dalam pemberitaan Kompas.
Temuan koin itulah yang kemudian menjadi salah satu inspirasi penggunaan simbol koin di kawasan Sumur Gentong. Namun, keberadaan koin-koin tersebut saat ini tidak seluruhnya diketahui.
Norkhayadi menyebut sebagian koin pernah diminta oleh pihak terkait untuk kepentingan pendataan dan museum. Sementara sebagian lainnya disebut masih disimpan oleh masyarakat.
Selain menjadi situs sejarah, kawasan Sumur Gentong kini kembali hidup dengan berbagai kegiatan masyarakat. Sejak Norkhayadi menjadi juru kunci, kegiatan keagamaan dan kebudayaan mulai kembali digelar.
Kegiatan yang awalnya sederhana seperti terbang dan rebana kemudian berkembang menjadi hadrah, pengajian, hingga kegiatan yang melibatkan lebih banyak masyarakat. Bulan Maulid menjadi salah satu momentum yang paling ramai.
“Awalnya kecil-kecil, terbang, rebana, kemudian menjadi pengajian besar. Sekarang alhamdulillah sudah ramai,” tuturnya.
Norkhayadi berharap masyarakat sekitar ikut menjaga keberadaan Sumur Gentong agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Ia juga meminta perhatian pemerintah desa maupun pemerintah daerah untuk membantu merawat dan mengembangkan situs tersebut.
Menurutnya, pembangunan kawasan Sumur Gentong dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan nuansa tradisional. Misalnya dengan menggunakan konsep bangunan bernuansa kayu dan tetap mempertahankan karakter sejarahnya.
Ia tidak berharap mendapatkan bantuan yang berlebihan. Baginya, perhatian terhadap biaya perawatan dan pelestarian situs sudah menjadi hal yang sangat berarti.
“Kami tidak mengharap yang muluk-muluk. Cukup diperhatikan untuk biaya perawatan atau yang lainnya. Semoga ke depan lebih baik untuk anak cucu kita supaya bisa lestari,” pungkas Norkhayadi.
Sumur Gentong Loram Wetan pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah sumber air. Di balik keberadaannya terdapat cerita sejarah, jejak benda kuno, tradisi masyarakat, keyakinan, serta harapan agar peninggalan tersebut tetap terjaga dan dikenal oleh generasi mendatang.



