• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Stunting Kudus Turun Jadi 3,06 Persen Target Zero Stunting Jadi Tantangan Berikutnya

    Noer
    8/31/26, 09:45 WIB Last Updated 2026-08-31T02:45:49Z

     


    KUDUS, liputankudus.id -- Kabupaten Kudus mencatat penurunan prevalensi stunting menjadi 3,06 persen pada Juli 2026. Angka tersebut turun dibandingkan capaian sebelumnya sebesar 4,03 persen.


    Penurunan hampir satu poin persentase itu menjadi sinyal positif bagi upaya pencegahan stunting di Kudus. Namun, capaian tersebut juga menyisakan pekerjaan besar karena Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan tidak ada lagi kasus stunting di wilayahnya.


    Komitmen itu kembali ditegaskan melalui MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 yang digelar di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Jaga Generasi Emas, Merdeka Lawan Stunting” tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kudus dan Bakti Sosial Djarum Foundation.


    Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, penurunan prevalensi stunting merupakan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan secara bersama-sama. Meski demikian, ia meminta capaian tersebut tidak membuat pemerintah dan masyarakat mengendurkan upaya pencegahan.


    “Angka stunting kita turun dari 4,03 persen menjadi 3,06 persen. Ini merupakan capaian yang patut kita syukuri, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti. Target kita adalah zero stunting,” kata Sam’ani.


    Menurut dia, pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Perubahan perilaku di tingkat keluarga justru menjadi salah satu kunci untuk menjaga tumbuh kembang anak sejak dini.


    Pemenuhan gizi seimbang, kebersihan lingkungan, pola hidup sehat, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, kata Sam’ani, perlu dilakukan secara konsisten.


    “Generasi emas harus dipersiapkan mulai dari keluarga. Jangan hanya ketika anak sakit kita baru memperhatikan kesehatan. Kebiasaan hidup sehat, asupan gizi yang baik, dan lingkungan yang sehat harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.



    Persoalan stunting sendiri masih menjadi perhatian nasional. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat 19,8 persen, turun dari 21,5 persen pada 2023. Pemerintah menargetkan angka tersebut kembali ditekan hingga 14,2 persen pada 2029.


    Di Kudus, upaya pencegahan juga diarahkan pada penguatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi keluarga. Salah satunya melalui MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 yang menghadirkan pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan tumbuh kembang anak, layanan psikologi keluarga, edukasi gizi, serta kegiatan olahraga bersama.


    Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation Ahmad Budiarto mengatakan, perubahan kebiasaan menjadi bagian penting dalam membangun keluarga sehat.


    “Membangun keluarga sehat tidak cukup hanya dengan kesehatan murni saja, tetapi bagaimana membangun kebiasaan hidup sehat. Di sinilah Djarum Foundation bersama MilkLife ingin hadir, memberikan edukasi dan mengajak masyarakat menjadikan hidup sehat sebagai kebiasaan sehari-hari,” kata Ahmad.


    Festival tersebut melibatkan 19 Puskesmas dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Keterlibatan tenaga kesehatan diharapkan tidak berhenti pada layanan pemeriksaan, tetapi juga mendorong keluarga lebih aktif mengenali kebutuhan gizi dan memantau tumbuh kembang anak.


    Penurunan angka stunting menjadi 3,06 persen menempatkan Kudus pada capaian yang relatif rendah. Namun, target zero stunting membuat pemerintah masih harus memastikan bahwa intervensi berjalan hingga tingkat keluarga dan menjangkau kelompok yang paling rentan.


    Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan angka yang rendah, melainkan memastikan tidak terjadi kasus baru. Edukasi, pemantauan tumbuh kembang, pemenuhan gizi, serta kebiasaan hidup sehat menjadi bagian penting dari upaya tersebut.


    Bagi Kudus, angka 3,06 persen bukan menjadi garis akhir, melainkan pijakan menuju target yang lebih ambisius: memastikan setiap anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler