• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Merawat Tradisi Merayakan Kreasi - Pertunjukan Sastra

    Any Firgiyanti
    8/21/26, 11:01 WIB Last Updated 2026-08-21T04:01:44Z




    Kudus. liputankudus.id. 19 Agustus 2026 — Pemenuhan keperluan ruang ekspresi seni dan budaya di tingkat desa kini tidak lagi sekadar menyediakan lapangan atau tempat berkumpul, melainkan membuka ruang dialog sosial, ekonomi, dan negosiasi kebudayaan. Penyelenggaraan SERAH 7: Merawat Tradisi, Merayakan Kreasi pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Selatan Gazebo, Desa Megawon, menjadi contoh nyata bagaimana sarana budaya lokal difungsikan untuk mempertemukan seni pertunjukan dengan dinamika masyarakat desa.


    Acara yang diinisiasi oleh Serah berkolaborasi dengan komunitas kesenian 9,9 ini menghadirkan ragam pertunjukan—mulai dari COTSU (musikalisasi puisi), Teater Obeng X Simpul Teater (puisi), Terban Teater Labs (drama teater), KB. Cabean (tari), Ahmed Zeyn (puisi), hingga Ruang Intim (teatrikal)—bersandingan dengan live session kuliner tradisional khas Desa Megawon seperti Getuk Gulung.


    Fasilitas kesenian desa yang hidup memerlukan perencanaan yang terarah agar setiap elemen di dalamnya memiliki peran aktif. Dian Puspita Sari menegaskan bahwa keberadaan wadah ekspresi seni dan ekonomi warga tidak bisa diserahkan pada mekanisme spontan.


    "Kalau seni dan UMKM cuma diletakkan berdampingan tanpa skema yang jelas, keduanya jadi dua kegiatan yang kebetulan terjadi di tempat yang sama. Yang kami coba bangun di SERAH 7 adalah titik temu yang konkret, di mana pelaku UMKM ikut terlibat dalam produksi acara, tidak hanya berjualan di pinggir panggung," ujar Dian.


    Dian juga menggarisbawahi bahwa efektivitas pemenuhan keperluan ruang ekspresi seni dan budaya untuk ekosistem berkesenian tidak cukup diukur dari seberapa penuh lapangan oleh pengunjung dalam sehari. Indikator utamanya terletak pada keberlanjutan relasi antara seniman dan warga lokal setelah ruang fisik tersebut kembali ke fungsi sehari-harinya.


    Selain fungsi ekonomi, sarana pertunjukan desa juga menjadi gelanggang bertemunya idiom seni kontemporer dan tradisi lokal. Yudhistira menyoroti dinamika yang muncul ketika panggung pasar rakyat di Selatan Gazebo Megawon mempertemukan warga desa dengan komunitas seni luar yang telah memiliki jejaring pertunjukan lebih matang.


    "Begitu dua kutub ini bertemu di satu panggung pasar rakyat, ada tarik-menarik yang jarang dibicarakan terbuka. Komunitas luar desa datang dengan bentuk pertunjukan yang lebih terlatih untuk menarik perhatian penonton, sementara warga desa hadir lewat sesuatu yang lebih sederhana secara tampilan, tapi lebih dekat dengan akar tradisi setempat," jelas Yudhistira.


    Yudhistira menambahkan, ketimpangan infrastruktur promosi dan kapasitas jejaring membuat posisi tawar warga desa sering kali lebih rentan. Tanpa pengelolaan wadah ekspresi yang inklusif, ada risiko tradisi lokal hanya dijadikan latar belakang budaya untuk memberi kesan "kerakyatan", sementara panggung utama tetap didominasi oleh kelompok yang lebih populer.


    Arah Pengelolaan Keperluan Ruang Ekspresi Seni dan Budaya Desa

    SERAH 7 dalam mengakomodasi keperluan ruang ekspresi seni dan budaya di desa pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana sarana tersebut mampu memfasilitasi kesetaraan. Sebab Pemanfaatan arena kesenian daerah yang ideal harus memenuhi tiga prinsip utama:


    Inklusivitas Peran: Menempatkan warga lokal dan kuliner tradisinya sebagai bagian inti dari sajian budaya, bukan sekadar penonton atau pedagang sampingan.

    Keseimbangan Posisi Tawar: Membangun ruang interaksi yang adil antara seniman luar desa yang membawa idiom kontemporer dengan pelaku tradisi lokal.

    Dampak Berkelanjutan: Memastikan sarana ekspresi melahirkan jejaring kerja sama baru yang terus berjalan setelah kegiatan panggung usai.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler