KUDUS, liputankudus.id – Kesadaran memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Melalui kebiasaan memilih bahan pangan yang tepat saat berbelanja, keluarga dapat membangun pola hidup sehat dengan memanfaatkan anggaran secara bijak.
Semangat itulah yang diusung dalam program “Belanja
Pinter Gizine Bener” yang kembali digelar Bakti Sosial Djarum Foundation
bersama Savoria pada 2026. Kegiatan edukasi pemenuhan gizi keluarga tersebut
dilaksanakan di lima lokasi, yakni SKT Blolo, SKT Besito, SKT Tanjungkarang 1,
SKT Tanjungkarang 2, dan SKT Garung, dengan melibatkan sekitar 2.500 karyawan.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak mempraktikkan
langsung bagaimana menyusun belanja kebutuhan pangan keluarga dengan anggaran
terbatas sebesar Rp25 ribu. Uang tersebut digunakan untuk berbelanja di pasar
sekitar lokasi kerja dengan memperhatikan unsur gizi seimbang, mulai dari
karbohidrat, protein nabati, protein hewani, sayur, buah, hingga pelengkap
seperti susu.
Senior Manager Bakti Sosial Djarum Foundation, David
Setiadi, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman
tentang gizi, tetapi juga mendorong peserta mampu menerapkan pengetahuan
tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Belanja Pinter Gizine Bener merupakan upaya mengajak
para karyawan memahami bahwa hidup sehat dimulai dari pilihan makanan yang ada
di piring keluarga. Edukasi ini tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi
dilanjutkan dengan praktik bagaimana mereka mengelola anggaran yang terbatas
untuk tetap menghadirkan makanan bergizi bagi keluarga,” ujar David.
Ia menjelaskan, hasil belanja peserta kemudian dinilai
oleh tim ahli gizi berdasarkan kelengkapan komponen gizi seimbang, kreativitas
memilih bahan pangan, kemampuan menjawab pertanyaan seputar gizi, serta
efektivitas penggunaan anggaran.
“Peserta yang mampu memenuhi seluruh komponen gizi
mendapatkan apresiasi berupa paket sembako. Selain itu, tiga peserta terbaik
memperoleh paket sembako lengkap sebagai bentuk penghargaan atas kreativitas
dan pemahaman mereka dalam menyusun kebutuhan pangan keluarga,” katanya.
Selain praktik belanja, kegiatan tersebut juga dilengkapi
dengan permainan edukatif mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang. Para
peserta juga didorong membagikan pengalaman mereka melalui konten pengolahan
makanan bersama keluarga sebagai upaya memperluas pesan pentingnya memilih
makanan yang tepat.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad
Budiharto, menambahkan bahwa konsep kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar
sebagai edukasi, tetapi juga sebagai proses pembelajaran hingga penerapan.
“Ini bukan hanya memberikan edukasi, tetapi bagaimana
masyarakat diberikan pemahaman yang baik tentang membangun keluarga sehat,
mulai dari cara memilih hingga menyiapkan makanan yang baik untuk keluarga,”
jelas Achmad.
Menurutnya, persoalan kesehatan keluarga, termasuk
pencegahan stunting, membutuhkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari
lingkungan keluarga.
“Konsep kami bukan hanya edukasi, tetapi dari edukasi
sampai eksekusi. Mereka diberikan pemahaman tentang kebutuhan gizi, kemudian
dibekali cara berbelanja, setelah itu hasil belanjanya dievaluasi apakah sudah
sesuai dengan pengetahuan yang diberikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski nilai anggaran yang digunakan
relatif sederhana, pembelajaran yang diperoleh peserta memiliki nilai penting
dalam membangun kebiasaan hidup sehat.
“Nominal Rp25 ribu mungkin tidak besar, tetapi bagaimana
dengan jumlah tersebut mereka mampu menyusun makanan sehat untuk keluarga. Hal
seperti ini perlu terus diulang agar menjadi kebiasaan,” kata Achmad.
Sementara itu, Supervisor SKT Tanjungkarang 2 Agus
Widianto menilai program tersebut memberikan pengalaman baru bagi karyawan
dalam memahami pentingnya menentukan prioritas saat berbelanja.
“Selama ini mungkin sebagian orang berbelanja berdasarkan
keinginan. Melalui kegiatan ini mereka memahami bahwa setiap pilihan belanja
juga menentukan kualitas kesehatan keluarga. Jadi bukan hanya membeli makanan
yang diinginkan, tetapi juga memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi,” ungkap
Agus.
Pengalaman serupa dirasakan Siti Zahro, salah seorang
karyawan SKT Blolo. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru bahwa aktivitas
belanja kebutuhan rumah tangga perlu mempertimbangkan keseimbangan gizi.
“Sebelumnya kalau belanja ya hanya memikirkan keluarga
ingin makan apa. Sekarang saya mulai memahami bahwa yang dibeli juga harus
memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kirana, karyawan SKT Besito.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan praktis yang dapat
langsung diterapkan di rumah.
“Saya mendapatkan banyak informasi yang sebelumnya belum
saya pahami. Ternyata belanja tidak hanya sekadar membeli bahan makanan, tetapi
harus memperhatikan kandungan gizi yang dibutuhkan keluarga,” katanya.
Pada pelaksanaan di SKT Garung, peserta juga merasakan
manfaat langsung dari kegiatan tersebut. Salah satunya Siti Fatimah dari Desa
Setrokalangan yang berhasil menyusun menu bergizi dengan anggaran Rp25 ribu.
Ia membeli beras sebagai sumber karbohidrat, ikan lele
sebagai protein hewani, tahu dan tempe sebagai protein nabati, sayur bayam,
buah jeruk dan kelengkeng, serta susu sebagai pelengkap.
“Dengan uang Rp25 ribu saya bisa mendapatkan bahan
makanan untuk satu kali makan keluarga yang berjumlah empat orang. Saya sangat
senang karena ternyata dengan anggaran terbatas tetap bisa menyiapkan makanan
yang lengkap gizinya,” tutur Siti.
Melalui program “Belanja Pinter Gizine Bener”, Bakti
Sosial Djarum Foundation dan Savoria berharap kebiasaan memilih pangan secara
cerdas dapat terus diterapkan oleh para karyawan bersama keluarga. Sebab,
keluarga sehat berawal dari keputusan sederhana dalam memilih makanan setiap
hari.

