-->
  • Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Dinsos P3AP2KB Kudus Bergerak Lewat Sedekah GENTING Empat Anak Berisiko Stunting Dapat Pendampingan dan Bantuan Gizi

    Any Firgiyanti
    7/03/26, 18:52 WIB Last Updated 2026-07-03T11:52:53Z




    Liputankudus.id. KUDUS – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kudus terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Salah satunya diwujudkan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Kudus melalui program Sedekah GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang dilaksanakan pada Jumat (3/7/2026).


    Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinsos P3AP2KB Kabupaten Kudus Putut Winarno bersama jajaran mendatangi langsung rumah keluarga yang memiliki anak berisiko stunting di sejumlah wilayah. Selain menyerahkan bantuan, kunjungan dilakukan untuk memastikan kondisi anak, memberikan edukasi kepada orang tua, serta memperkuat pendampingan agar tumbuh kembang anak dapat dipantau secara berkelanjutan.


    Empat anak yang menjadi sasaran pada kegiatan kali ini yakni Ayana Keilana, putri Bapak Slamet, warga RT 3 RW 1 Desa Megawon, Kecamatan Jati; Fela Haura Salsabila, putri Bapak Fery Gunawan, warga RT 2 RW 2 Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae; Namira Akyar Al Mahyra, putri Bapak Joko Satrio, warga RT 4 RW 2 Desa Jepang, Kecamatan Mejobo; serta Muh Khalif Arshaka, putra Bapak Muhlisin, warga RT 2 RW 3 Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.


    Bantuan yang diberikan berupa paket pemenuhan gizi yang terdiri atas telur, beras, minyak goreng, daging, susu, perlengkapan anak, serta kebutuhan penunjang lainnya. Bantuan tersebut diharapkan mampu membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi anak selama masa intervensi.


    Putut Winarno mengatakan, penanganan stunting harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak masa kehamilan. Menurutnya, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa emas yang sangat menentukan kualitas pertumbuhan anak.


    "Upaya pencegahan stunting dimulai sejak kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan. Itu merupakan masa golden age sehingga pertumbuhan anak harus terus dipantau dan dievaluasi melalui sistem yang sudah ada. Ketika muncul rekomendasi bahwa seorang anak berisiko stunting, maka harus segera dilakukan intervensi agar berat badan dan tinggi badannya kembali sesuai standar pertumbuhan. Berkaitan dengan stunting ini wilayah untuk melakukan intervensi terhadap anak yang beresiko stunting, bukan anak stunting. sifatnya lebih kepada mencegah terjadinya stunting," ujarnya.


    Ia menjelaskan, pendekatan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kudus mengedepankan pola by name by address, sehingga setiap anak yang teridentifikasi berisiko stunting mendapatkan pendampingan secara langsung sesuai kondisi masing-masing keluarga.


    "Intervensi dilakukan secara cepat melalui pendekatan by name by address. Kami memberikan dukungan hingga ke tingkat desa agar penanganannya benar-benar tepat sasaran. Setiap bulan kami turun ke desa untuk memastikan pendampingan terus berjalan," katanya.



    Menurut Putut, persoalan stunting tidak cukup diselesaikan hanya dengan pemberian bantuan pangan. Pendampingan secara berkelanjutan menjadi faktor penting agar kondisi anak dapat terus dipantau hingga mencapai pertumbuhan yang ideal.


    Karena itu, Dinsos P3AP2KB menjadikan Sedekah GENTING sebagai agenda rutin yang dilaksanakan setiap Jumat pertama setiap bulan. Program tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi membantu keluarga yang membutuhkan melalui semangat gotong royong.


    "Ini merupakan sedekah stunting dari masyarakat untuk masyarakat. Harapannya tumbuh kepedulian antarwarga dalam membantu keluarga yang memiliki anak berisiko stunting," jelasnya.


    Ia menambahkan, seluruh desa binaan akan terus dikunjungi secara berkala. Selain memastikan bantuan tersalurkan, petugas juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan berat badan dan tinggi badan anak sehingga hasil intervensi dapat dievaluasi setiap bulan.


    "Kami ingin pendampingan tidak berhenti setelah bantuan diberikan. Setiap bulan kami datang kembali untuk melihat perkembangan anak. Tujuan akhirnya adalah bagaimana anak-anak yang masuk kategori berisiko stunting dapat kembali tumbuh normal sesuai usianya," imbuh Putut.


    Program GENTING sendiri merupakan gerakan nasional yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN sebagai bentuk gotong royong masyarakat dalam percepatan penurunan stunting. Melalui gerakan ini, berbagai elemen masyarakat didorong menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting dengan memberikan bantuan pemenuhan gizi, pendampingan, maupun dukungan kebutuhan dasar lainnya.



    Di Kabupaten Kudus, program tersebut dikembangkan menjadi Sedekah GENTING yang tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan, tetapi juga membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan. Intervensi dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan pemantauan sehingga setiap anak yang membutuhkan dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.


    Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, kader pendamping keluarga, tenaga kesehatan, dunia usaha, serta masyarakat, Dinsos P3AP2KB berharap angka stunting di Kabupaten Kudus dapat terus ditekan. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada bantuan sesaat, melainkan memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh sehat, mendapatkan asupan gizi yang cukup, serta memiliki masa depan yang lebih baik.


    Sedekah GENTING diharapkan menjadi gerakan bersama yang mampu memperkuat kepedulian sosial masyarakat. Dengan keterlibatan banyak pihak, upaya pencegahan stunting diyakini dapat berjalan lebih efektif sehingga target penurunan stunting di Kabupaten Kudus dapat tercapai.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler