Liputankudus.id. Kudus - Langit sore di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tampak teduh ketika puluhan warga mulai berkumpul membawa tenong berisi aneka makanan tradisional. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam rangkaian Sepekan Gelar Budaya 2026 yang digelar untuk memperingati sedekah bumi sekaligus Hari Jadi Desa Wates ke-171.
Tradisi yang berlangsung dari 11 hingga 17 Mei 2026 itu bukan sekadar perayaan tahunan. Bagi warga Desa Wates, kegiatan tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya yang telah hidup turun-temurun sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
Salah satu prosesi yang paling menarik perhatian adalah tradisi Munjung Wong Tuwo. Dalam tradisi itu, generasi muda menyerahkan tenong dan jajanan tradisional kepada para sesepuh desa. Sebagai balasan, para orang tua memberikan seikat padi sebagai simbol doa, keberkahan, dan harapan bagi generasi penerus.
Kepala Desa Wates, Abdullah Asofii mengatakan tradisi tersebut memiliki makna mendalam bagi masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
“Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada orang tua. Kami berharap masyarakat selalu mendapatkan doa dan keberkahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan padi dalam prosesi bukan tanpa alasan. Desa Wates dikenal memiliki hamparan sawah yang luas sehingga kehidupan masyarakat sangat lekat dengan dunia pertanian.
“Padi menjadi simbol kehidupan masyarakat kami. Ini juga sebagai pengingat kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan pertanian desa,” jelasnya.
Tradisi Munjung Wong Tuwo sendiri rutin digelar setiap bulan Apit dalam penanggalan Jawa. Menurut Abdullah, tradisi itu bahkan sudah ada jauh sebelum dirinya lahir dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Jika dulu prosesi dilakukan di area makam leluhur desa, kini kegiatan dipusatkan di Taman Padang Bulan agar lebih terbuka dan dapat disaksikan masyarakat luas.
Sementara itu, Ketua Panitia Pagelaran Kirab Wates, Mohammad Zuhri menambahkan, rangkaian Sepekan Gelar Budaya tahun ini diisi berbagai kegiatan mulai khataman Al-Qur’an, sholawat, kirab budaya, pentas barongan, reog hingga pertunjukan teater rakyat.
“Tema tahun ini tetap sedekah bumi dan gelar budaya dalam rangka Hari Jadi Desa Wates ke-171. Intinya bagaimana budaya ini tetap hidup dan dikenal generasi muda,” katanya.
Kirab budaya diikuti sekitar 30 kelompok yang terdiri dari pemerintah desa, kelompok tani, BUMDes, koperasi desa, RT, RW hingga organisasi masyarakat.
Menurutnya, perayaan budaya bukan sekadar hiburan tahunan. Tradisi tersebut menjadi ruang mempererat persaudaraan, menjaga identitas desa, sekaligus mewariskan nilai hormat kepada leluhur dan budaya Jawa kepada generasi berikutnya.


