Liputankudus.id. Kudus – Upaya warga RW 3 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus dalam mengolah sampah rumah tangga membuahkan hasil. Program pemanfaatan limbah organik sebagai pakan ternak entok milik warga setempat berhasil masuk nominasi penilaian lingkungan yang digelar Djarum Foundation.
Program tersebut menjadi perhatian karena dinilai mampu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Sampah dapur yang biasanya dibuang kini dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ternak entok.
Owner peternakan entok Ony di RW 3 Jati Kulon menjelaskan, pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan melalui beberapa cara. Untuk sampah anorganik seperti botol plastik, warga mengelolanya melalui bank sampah. Sementara sampah organik diolah menjadi eco enzyme dan pakan ternak.
“Sampah dapur dan sisa makanan warga dikumpulkan lalu dimanfaatkan untuk pakan entok. Jadi limbah rumah tangga tidak langsung dibuang begitu saja,” ujarnya.
Ia mengatakan, inovasi tersebut menjadi salah satu materi yang diikutsertakan dalam penilaian Djarum Foundation terkait penanganan sampah rumah tangga. Warga RW 3 diminta membuat video mengenai pengelolaan sampah yang dilakukan di lingkungan mereka.
Dalam video itu ditampilkan tiga program utama, yakni bank sampah, pengolahan eco enzyme, dan pemanfaatan sampah organik untuk pakan ternak. Program tersebut kemudian berhasil lolos hingga tahap nominasi.
Beberapa waktu lalu, tim penilai dari Djarum Foundation bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, pihak kecamatan, dan instansi terkait telah datang langsung melakukan peninjauan lapangan.
“Sekarang masuk tahap penilaian kedua. Informasinya nanti puncak acara tanggal 8 Juni di Oasis Djarum Kudus. Kalau menang akan diundang ke sana,” katanya.
Menurutnya, lomba tersebut menjadi langkah positif untuk mendorong masyarakat lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga agar tidak terus menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Selain memanfaatkan sampah organik untuk pakan entok, warga sebelumnya juga mengembangkan budidaya maggot untuk membantu mengurai limbah makanan. Namun saat musim hujan, perkembangan maggot dinilai kurang maksimal.
Meski demikian, proses fermentasi pada sampah organik tetap dilakukan sehingga limbah yang digunakan sebagai pakan tidak menimbulkan bau menyengat di sekitar kandang.
Warga juga memiliki cara unik untuk mengurangi gangguan tikus di area peternakan. Mereka memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Kudus untuk disebar di sekitar kandang entok.
“Sisa kopi dari coffee shop kami ambil untuk membantu mengurangi tikus. Aromanya masih kuat jadi cukup membantu,” jelasnya.
Saat ini jumlah entok yang dipelihara di kandang tersebut mencapai sekitar 70 ekor. Pemberian pakan dilakukan menyesuaikan jumlah sampah organik yang masuk setiap harinya. (adm).

