• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Ketika Gitar Mulai Bicara, Siapa yang Berani Menjawab?

    Any Firgiyanti
    8/21/26, 20:51 WIB Last Updated 2026-08-21T13:54:42Z



    KUDUS. liputankudus.id. – Kemerdekaan boleh dirayakan dengan bendera, panggung dan pesta. Tetapi ada satu hal yang tak pernah bisa dibungkam: suara rakyat.

    Menjelang peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah panggung musik di Kabupaten Kudus justru memilih jalan yang berbeda. Bukan sekadar mengajak masyarakat bernyanyi dan berjoget, melainkan menghidupkan kembali lagu-lagu yang selama ini dikenal sebagai suara kegelisahan, kritik, dan keresahan masyarakat.

    Bertajuk “Suara Rakyat, Suara Hati”, acara BAJ Live Tribute – Tribute Iwan Fals akan digelar pada Jumat, 28 Agustus 2026, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, di RT 02/RW 01, Dukuh Madu, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus, dengan lokasi Warung Sego Jagung Mas Atif.

    Tema yang diusung pun cukup menohok: “81 Tahun Merdeka, Suara Tak Pernah Diam.”

    Kalimat tersebut seolah menjadi penanda bahwa kemerdekaan tidak selalu harus diterjemahkan melalui seremoni. Ada kemerdekaan lain yang tak kalah penting—kemerdekaan untuk menyampaikan keresahan, mempertanyakan keadaan, dan menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat.

    Sebanyak 11 lagu akan dibawakan dalam pertunjukan tersebut. Mulai dari Ibu, Sarjana Muda, Wakil Rakyat, Isi Rimba, Hey Bung Karno, Pesawat Tempur, Bongkar, Siang Sebrang Istana, Serdadu, Kemesraan, hingga Kita Indonesia dan lagu lainnya.

    Pilihan lagu tersebut tentu bukan tanpa alasan. Karya-karya Iwan Fals telah lama menjadi bagian dari perjalanan sosial masyarakat Indonesia. Liriknya sering kali berbicara tentang rakyat kecil, ketimpangan, kehidupan sosial, hingga kritik terhadap kekuasaan.

    Di panggung ini, gitar bukan sekadar alat musik. Ia menjadi suara.

    Suara yang mungkin selama ini hanya berhenti di warung kopi, di jalanan, di rumah-rumah rakyat, atau di percakapan sederhana antarmasyarakat.

    Tak hanya musik, acara juga menghadirkan Gus Akhris S. Najieb dalam sesi refleksi dan renungan. Ruang tersebut menjadi bagian penting dari konsep acara: mengajak penonton bukan hanya mendengar lagu, tetapi juga mendengar kembali suara hati masing-masing.

    Sebab setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaannya bukan hanya “sudahkah kita merdeka?”

    Tetapi juga:

    “Merdeka untuk siapa?”

    Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang ingin dibiarkan hidup melalui musik dan refleksi dalam acara tersebut.

    Dengan tagline “Dari Rakyat, Untuk Negeri. Dari Hati, Untuk Bangsa.”, kegiatan ini mencoba menghadirkan wajah lain dari perayaan kemerdekaan—lebih dekat dengan rakyat, lebih berani bersuara, dan tidak takut mengajak masyarakat berpikir.

    Karena terkadang, sebuah gitar bisa lebih jujur daripada seribu pidato.

    Dan ketika gitar mulai berbunyi, mungkin yang sebenarnya sedang bernyanyi adalah suara rakyat.

    Informasi: 0812-2854-3705.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler