Kudus. liputankudus.id.--- Kreativitas warga Desa Jatikulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tumpah ruah dalam karnaval peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-477 Kabupaten Kudus. Beragam karakter unik, mulai dari lebah madu hingga rombongan ala Shaun the Sheep, sukses mencuri perhatian penonton.
Di antara puluhan kontingen yang berparade, rombongan ala Shaun the Sheep dari RT 2 RW 6 menjadi salah satu penampilan yang paling menghibur. Para peserta tampil mengenakan kostum karakter domba-domba lucu lengkap dengan rombongan yang berperan sebagai petani dan penggembala.
Penampilan unik tersebut membuat warga yang berada di sepanjang rute karnaval tak henti memberikan perhatian. Tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.
Tak kalah menarik, kontingen dari RT 1 RW 6 tampil dengan konsep ala lebah madu. Kostum bernuansa kuning dengan berbagai pernak-pernik khas lebah membuat barisan tersebut tampak mencolok di tengah parade.
Selain dua kontingen tersebut, peserta karnaval juga menampilkan beragam konsep dan kreativitas. Mulai dari busana tradisional, modern, gaya western hingga kostum kontemporer, semuanya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan marching band serta pasukan pembawa bendera yang berada di barisan awal. Satu per satu kontingen kemudian berjalan menyusuri jalanan desa sambil menampilkan konsep terbaik yang telah mereka persiapkan.
Di panggung kehormatan, tampak Kepala Desa Jatikulon Hery Supriyanto bersama Camat Jati Zainuddin serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Mereka turut menyaksikan satu per satu penampilan kontingen yang melintas dan memberikan apresiasi atas kreativitas warga.
Karnaval tersebut digelar untuk memeriahkan dua momentum penting, yakni HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-477 Kabupaten Kudus. Sebanyak 33 kontingen dari berbagai unsur masyarakat ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kepala Desa Jatikulon, Hery Supriyanto, mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga wadah untuk memperkuat kebersamaan dan kolaborasi seluruh masyarakat.
Menurutnya, pelaksanaan karnaval juga diselaraskan dengan tema pembangunan Kabupaten Kudus melalui semangat Kudus Asik, termasuk kepedulian terhadap pengelolaan sampah.
“Karena juga disesuaikan dengan tema Kudus Asik, pengelolaan sampah, kita berkolaborasi dan kita sinkronkan dengan tema-tema ini,” ujar Hery.
Ia menyebutkan, karnaval tahun ini melibatkan 29 RT, empat sekolah dasar serta berbagai unsur organisasi masyarakat, termasuk badan otonom NU dan Muhammadiyah. Secara keseluruhan, jumlah peserta dan warga yang terlibat diperkirakan mencapai sekitar seribu orang.
Hery menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan karnaval yang kedua. Jika pada tahun sebelumnya peserta masih dikelompokkan berdasarkan RW, tahun ini cakupan peserta diperluas hingga tingkat RT dan dikemas dalam bentuk perlombaan.
“Kalau kemarin masih tingkat RW, sekarang kita lebarkan tingkat RT. Tahun ini juga kita lombakan, sedangkan yang kemarin belum dilombakan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Karnaval, Santoso, mengatakan antusiasme masyarakat tahun ini sangat tinggi. Sebanyak 33 kontingen tampil dengan berbagai kreativitas untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan dan hari jadi Kabupaten Kudus.
“Kegiatan hari ini adalah karnaval dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan HUT Kabupaten Kudus ke-477. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kebersamaan dan kolaborasi dengan seluruh warga Jatikulon,” katanya.
Karnaval mengambil titik awal dari Lapangan Samba dan melintasi sejumlah ruas jalan di Desa Jatikulon sebelum akhirnya finis di SD Negeri 1 Jatikulon. Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyaksikan parade yang penuh warna tersebut.
Tak sekadar menjadi ajang hiburan, karnaval tahun ini juga dikemas dalam bentuk perlombaan. Panitia menyiapkan hadiah bagi juara satu, dua, tiga serta juara harapan satu hingga tiga.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, dewan juri didatangkan dari luar Desa Jatikulon. Hal tersebut dilakukan agar para pemenang benar-benar ditentukan berdasarkan kreativitas dan penampilan terbaik.
“Juri kita ambilkan dari luar Jatikulon supaya netral. Harapannya, yang menjadi juara memang betul-betul juara dan tidak ada unsur rekayasa,” tegas Santoso.
Melalui karnaval penuh kejutan ini, warga Desa Jatikulon menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan dan hari jadi daerah bukan sekadar seremoni. Kreativitas, kekompakan, dan semangat gotong royong menjadi warna utama yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat dalam sebuah pesta rakyat yang meriah.


