• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    Tradisi Jelaburan, Hidupkan Ramadhan

    LIPUTAN KUDUS 2
    3/03/26, 15:20 WIB Last Updated 2026-03-03T08:21:03Z

    Liputankudus.id. Kudus – Masjid Jami Al-Furqon yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kelurahan Burikan, Kecamatan Kota Kudus, kembali menghidupkan suasana Ramadan. Yang mana, melalui tradisi berbagi makanan berbuka puasa yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Jelaburan.


    ‎Tradisi tersebut rutin digelar setiap bulan suci dan menjadi bagian dari upaya masjid dalam menjalankan fungsi keagamaan sekaligus sosial di tengah masyarakat.

    ‎Ketua Takmir Masjid Jami Al-Furqon, Rifqi, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi makanan di masjidnya memang difokuskan pada momentum Ramadan. Menurutnya, bulan puasa memiliki nilai khusus dalam ajaran Islam terkait anjuran menjamu orang yang berpuasa.

    ‎“Kalau Ramadan, kami pasti mengadakan buka puasa bersama setiap hari. Ini sudah menjadi komitmen takmir sejak lama,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

    ‎Ia menjelaskan, mulai tanggal 1 hingga 20 Ramadan, Masjid Jami Al-Furqon menyediakan hidangan berbuka puasa bagi jamaah dan masyarakat umum. Sementara itu, pada 10 hari terakhir Ramadan, takmir menambah layanan sahur khusus bagi jamaah yang melaksanakan iktikaf di masjid.

    ‎“Kalau tanggal 21 sampai akhir Ramadan, selain buka puasa, kami juga menyediakan sahur, tapi itu khusus untuk jamaah yang iktikaf di sini. Daripada mereka pulang, lebih baik difasilitasi di masjid,” jelasnya.

    ‎Rifqi mengakui, istilah Jelaburan yang sering dilekatkan pada tradisi tersebut tidak diketahui asal-usulnya secara pasti. Namun, ia menyebut istilah itu hanya dikenal di lingkungan sekitar masjid, sementara di tempat lain umumnya disebut buka puasa bersama.

    ‎Dari sisi keagamaan, Rifqi menegaskan bahwa memberi makan orang yang berpuasa memiliki nilai pahala yang besar. Hal itu pula yang mendorong tingginya partisipasi para donatur.


    ‎“Setiap hari sudah ada yang nanggung. Hari pertama A, hari kedua B, dan seterusnya. Ada yang memberi dalam bentuk makanan, ada juga yang memberi uang lalu kami yang mengeksekusi,” katanya.

    ‎Jumlah jamaah yang berbuka puasa di masjid tersebut terus meningkat. Jika pada tahun-tahun sebelumnya rata-rata masih di bawah 200 orang, tahun ini jumlahnya mencapai lebih dari 230 jamaah per hari.

    ‎“Bayangkan, orang yang menjamu hanya satu hari, tapi pahalanya setara puasa ratusan orang,” ungkapnya.

    ‎Selain nilai ibadah, Rifqi menilai kegiatan tersebut juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Tidak semua jamaah yang berbuka puasa di masjid berasal dari kalangan tidak mampu. Ada pula musafir, pekerja yang belum sempat pulang ke rumah, hingga masyarakat sekitar yang ingin berbuka bersama.

    ‎“Masjid kan bukan hanya tempat ibadah, tapi juga punya fungsi sosial. Ada orang yang mungkin secara ekonomi terbantu karena bisa berbuka di sini,” ujarnya.

    ‎Lebih dari itu, kebersamaan saat makan bersama dinilai mampu mempererat hubungan antar sesama. Rifqi bahkan menyebut makan bersama sebagai sarana membangun kedekatan sosial.

    ‎“Kalau orang makan bersama, suasananya jadi cair. Yang belum kenal bisa jadi kenal, yang sudah kenal jadi tambah akrab,” katanya.

    ‎Dalam pengelolaannya, takmir juga memperhatikan variasi menu agar jamaah tidak bosan. Donatur yang membawa makanan sendiri akan dikoordinasikan agar tidak terjadi pengulangan menu dalam waktu dekat.

    ‎“Kalau satu kali buka puasa bisa habis Rp3 sampai Rp4 juta. Kalau ditotal sebulan bisa puluhan juta. Alhamdulillah semua ditopang donatur,” jelasnya.

    ‎Tradisi Jelaburan pun menjadi bukti bahwa masjid mampu menjadi pusat ibadah, solidaritas, dan kebersamaan selama Ramadan. (adm).

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler