Liputankudus.id. Kudus — Ribuan masyarakat memadati kawasan Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dalam perayaan tradisi Sewu Kupat yang digelar meriah. Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari perayaan Lebaran Kupat ini ditandai dengan arak-arakan ribuan kupat dari kawasan makam Sunan Kudus menuju Taman Ria Colo.
Prosesi kirab kupat berlangsung semarak dengan iringan gunungan ketupat dan hasil bumi yang dibawa oleh perwakilan desa-desa di lereng Gunung Muria. Masyarakat tampak antusias mengikuti jalannya arak-arakan, bahkan tidak sedikit yang rela berdesakan untuk mendapatkan kupat yang diyakini membawa berkah.
Tradisi Sewu Kupat sendiri merupakan agenda rutin masyarakat Colo yang digelar setiap satu pekan setelah Hari Raya Idulfitri atau bertepatan dengan Syawalan. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan sekaligus bentuk pelestarian budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain itu, Sewu Kupat juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat di lereng Gunung Muria yang sarat nilai religius. Prosesi biasanya diawali dengan doa di kawasan makam Sunan Muria, kemudian dilanjutkan kirab gunungan kupat menuju Taman Ria Colo untuk diperebutkan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, hadir Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton, Indah Sam’ani, anggota DPR RI Musthofa, Ketua Komisi D DPRD Kudus Antono, serta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) se-Kabupaten Kudus.
Dalam sambutannya, Bupati Kudus menyampaikan bahwa tradisi Sewu Kupat merupakan identitas budaya masyarakat Kudus yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
“Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat Kudus dalam memperingati Lebaran Kupat yang jatuh sepekan setelah Idulfitri. Selain itu, ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan silaturahmi antarwarga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketupat memiliki filosofi mendalam dalam budaya Jawa. Istilah “kupat” dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk saling memaafkan, membersihkan hati, serta memperbaiki hubungan sosial setelah Idulfitri.
Secara simbolik, anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia, sedangkan isi beras putih di dalamnya mencerminkan hati yang bersih setelah saling memaafkan. Dalam tradisi Jawa, kupat juga berkaitan dengan konsep “laku papat” yang menggambarkan proses spiritual setelah Ramadan, yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Sementara itu, anggota DPR RI Musthofa dalam sambutannya sebagai sesepuh Kabupaten Kudus menegaskan bahwa tradisi Sewu Kupat merupakan milik seluruh masyarakat Kudus.
“Meski dahulu saya penggagas kegiatan ini saat menjabat sebagai bupati, namun tradisi ini sejatinya adalah milik masyarakat Kudus. Keberlangsungannya hingga sekarang tidak lepas dari kekompakan dan peran aktif warga,” ungkapnya.
Diketahui, tradisi Sewu Kupat mulai digelar secara terorganisir sejak sekitar tahun 2007 dan hingga kini terus berkembang menjadi salah satu agenda budaya unggulan di Kabupaten Kudus.
Selain mengandung nilai religius dan budaya, tradisi ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Ribuan pengunjung yang datang setiap tahunnya turut menggerakkan sektor UMKM, pariwisata, serta ekonomi warga di kawasan Colo dan sekitarnya.
Bahkan, pemerintah daerah berencana mendorong tradisi Sewu Kupat agar semakin dikenal luas hingga tingkat nasional, bahkan internasional, serta berupaya mencatatkannya dalam rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun, tradisi Sewu Kupat tidak hanya menjadi perayaan budaya semata, tetapi juga simbol kuat kebersamaan, kearifan lokal, dan identitas masyarakat Kudus yang tetap lestari di tengah perkembangan zaman.



