Liputankudus.id. Kudus — Pengusaha muda nasional, Syafiq Effendi menegaskan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda agar tidak terpaku pada cita-cita menjadi aparatur sipil negara (ASN). Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan ASEAN Youth Movement yang digelar di Kabupaten Kudus, Sabtu (31/1/2026).
Syafiq menilai, tantangan masa depan tidak bisa dijawab hanya dengan mengandalkan sektor formal pemerintahan. Menurutnya, anak muda harus memiliki wawasan global, mental tangguh, dan keberanian untuk terjun ke dunia kewirausahaan.
“Anak muda boleh lahir dari daerah, tapi pikirannya harus global. Kita tidak bisa lagi berharap semua orang ingin dan bisa menjadi ASN. Anggaran negara terbatas, sementara tantangan ekonomi semakin kompleks,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya perang pemikiran di kalangan generasi muda saat ini, terutama akibat distraksi digital. Media sosial, khususnya platform video pendek, dinilainya berpotensi melemahkan fokus, produktivitas, dan daya juang jika tidak digunakan secara bijak.
“Anak muda sekarang sering terjebak hiburan instan. Padahal bangsa ini besar karena pemikiran para pendirinya, bukan karena budaya ikut-ikutan,” tegasnya.
Dalam paparannya, Syafiq menekankan bahwa bisnis bukan soal memilih bidang usaha, melainkan soal karakter, mental, dan kepemimpinan. Ia menyebut banyak usaha gagal bukan karena salah sektor, tetapi karena pelakunya tidak siap secara mental.
“Kalau mentalnya lemah, mau bisnis apa pun hasilnya akan jeblok. Yang utama itu mindset, mental kuat, dan jaringan luas,” katanya.
Ia juga mengingatkan anak muda agar tidak terjebak pola pikir instan, termasuk dalam investasi. Menurutnya, keinginan cepat kaya sering kali menjadi pintu masuk penipuan.
“Tidak ada kesuksesan instan. Indomie saja ada prosesnya. Jangan FOMO, jangan ikut-ikutan tanpa berpikir,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UKM Disnakerperinkop UKM Kabupaten Kudus, M. Faiz Anwari mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menyebut acara ini sebagai kolaborasi strategis antara wirausaha muda dan gerakan kewirausahaan nasional dalam membangun mental generasi muda.
“Peserta tidak langsung diajari bisnis, tapi dibentuk dulu mentalnya, mulai dari kecerdasan intelektual, emosional, hingga spiritual. Ini pondasi penting sebelum terjun ke dunia usaha,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan jejaring juga menjadi kunci utama. Dengan pergaulan dan kemitraan yang luas, peluang usaha akan terbuka lebih besar.
Kegiatan ini diikuti oleh pelajar SMA/SMK serta kalangan startup muda. Pemerintah daerah berharap, kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan wirausaha baru dan mengubah orientasi generasi muda agar tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi berani menciptakan lapangan kerja sendiri.


