KUDUS. liputankudus id. — Di sudut teras panggung Aula SMK Taman Siswa, sebuah sepeda motor tertutup terpal kusam dibiarkan membisu sejak awal pertunjukan. Kehadirannya tidak dijelaskan oleh dialog para pemeran, hadir laiknya perabot sehari-hari seperti sandal atau jemuran pakaian. Benda itu baru terasa memiliki bobot emosional ketika Wardi, seorang pedagang sapu lidi, pulang berjualan dan menuntun sepeda kerjanya di dekat sana.
Sore itu, Kenes, putri Wardi, pulang membawa kabar kelulusan sekolah bersama dua rekannya, Wawan dan Widya. Kehangatan khas keluarga kelas menengah-bawah seketika retak tatkala Wawan mengungkapkan niatnya mendaftar sebagai Tamtama. Kehadiran topik "seragam" itu membentur ingatan lama yang disimpan rapat lewat diam: tuduhan palsu, kedatangan aparat, hingga motor pemberian tanda penyesalan yang tak pernah berani dinaiki maupun dibuang.
Melalui lakon Tahun-Tahun Setelah Itu karya Idham Ardi, pementasan kelompok Teater Dejavu ini mengurai cara-cara sebuah keluarga bertahan di tengah gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). Trauma akibat kekerasan otoritas terbukti tidak lenyap sewaktu peristiwa politik atau sosial berakhir, melainkan mengendap dan mengatur gerak-gerik domestik sehari-hari.
Gestur dan respons tubuh para aktor memperlihatkan kerja trauma secara subtil. Lastri, sang istri, menerapkan mekanisme pertahanan batin (coping mechanism) dengan konsisten mengalihkan perhatian atau menawarkan makanan tiap kali suaminya menatap sepeda motor itu. Sementara itu, karakter Wardi mengejawantah lewat gejala somatik (somatic response)—tangannya gemetar hebat di sore hari yang hangat sembari mengeluh "Dingin", penanda nyata bahwa tubuh merekam ingatan kekerasan (the body keeps the score).
Transmisi trauma ini turut membebani generasi muda. Aturan tak tertulis "Jangan sekarang" menciptakan pola komunikasi yang selalu menunda kejujuran, membuat Kenes dan keluarganya tumbuh dalam iklim kewaspadaan berlebih (hypervigilance) terhadap simbol-simbol otoritas. Puncak pementasan pun tidak diwujudkan melalui obrolan verbal, melainkan keruntuhan fisik Wardi yang roboh sembari memohon ampun pada sosok tak kasat mata. Konflik eksternal berpindah menjadi dinamika batin dan ingatan tubuh di dalam rumah.
Keputusan memanfaatkan ruang teras dalam pertunjukan drama realisme ini sekaligus menuntut kecermatan teknis. Perpaduan pencahayaan, tata panggung, serta tata suara (soundscape) menjadi elemen pembatas yang krusial antara ruang privat di dalam rumah dan ruang publik di luar.
Kebutuhan akan kepekaan teknis panggung dan audio-visual semacam ini sejatinya menemukan ruang tumbuh yang selaras di lingkungan sekolah. Keberadaan Program Keahlian Produksi Film dan Program Penyiaran di SMK Taman Siswa memberi dukungan komplementer bagi aktivitas teater pelajar. Penguasaan siswa atas aspek framing, tata cahaya, kedalaman fokus (depth of field), hingga pengolahan audio profesional menjadi modal penting dalam mengemas pertunjukan yang bernas.
Pembina Teater Dejavu, Dian Puspitasari, menekankan bahwa seluruh rangkaian proses kreatif ini berakar pada pengembangan kapasitas diri siswa.
"Setiap pribadi pelajar yang terlibat adalah pribadi yang hidup, yang tengah bertumbuh, dan memiliki mata hati. Mereka adalah subjek yang siap berkembang, sehingga perlu kita pupuk, perteguh, dan perkuat," ujar Dian Puspitasari Pembina Teater Dejavu.
Rangkaian pementasan ini menguatkan simpulan bahwa teater maupun penguasaan media audio-visual di sekolah tidak sekadar ditujukan untuk mengejar hasil artistik instan. Lebih dari itu, ruang panggung dan laboratorium kejuruan difungsikan sebagai wadah pembentukan karakter, pengasah kepekaan rasa, serta sarana melahirkan generasi muda yang mahir secara teknis sekaligus matang secara emosional.



