Liputankudus.id.Kudus – Memasuki bulan Suro atau Muharram, tepatnya tanggal 11 Suro, masyarakat Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, kembali menggelar tradisi sedekah dan buka luwur di makam Mbah Mertoyudho atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Gledek. Tradisi tahunan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama, dilanjutkan prosesi penggantian atau buka luwur makam, kemudian diakhiri dengan bancakan serta pembagian sega berkat kepada masyarakat yang hadir.
Ketua Panitia Buka Luwur, Ahmad faidjin, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus mengingat jasa para pendahulu desa.
"Bagian dari melestarikan dan nguri-uri budaya, untuk menghormati leluhur. Pembagian sega berkat ini bertujuan untuk sedekah, juga ngalap berkah. Semoga tradisi ini tetap lestari dan menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah desanya," ujar Faizin.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Mertoyudho atau Mbah Gledek dikenal sebagai seorang pejuang pada era Majapahit yang memiliki kemampuan sebagai tabib atau penyembuh berbagai penyakit. Setelah masa perjuangannya, beliau menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Tumpangkrasak dan dikenal sebagai salah satu tokoh babat alas atau pembuka permukiman di desa tersebut.
Selain Mbah Mertoyudho, terdapat pula tokoh lain yang diyakini sebagai penerusnya, yakni Mbah Djoko Wiyono dan Mbah Djoko Satriyo atau yang juga dikenal sebagai Mbah Jogo Satru. Beliau berdua disebut sebagai murid sekaligus penerus Mbah Mertoyudho. Makam ketiganya berada di RT 03 RW 04 Desa Tumpangkrasak.
Juru kunci makam, Kunardi, mengatakan masyarakat hingga kini masih menjaga tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para leluhur yang telah membuka dan membangun kawasan tersebut.
"Yang kami rawat adalah nilai penghormatan kepada para leluhur. Masyarakat datang untuk berdoa kepada Allah SWT, mengenang perjuangan Mbah Mertoyudho sebagai sesepuh desa sekaligus tokoh yang diyakini ikut membabat alas Tumpangkrasak. Tradisi buka luwur ini menjadi pengingat agar sejarah desa tidak hilang," kata Kunardi.
Kunardi menuturkan, berdasarkan penuturan para sesepuh dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Mbah Mertoyudho dikenal sebagai seorang pejuang pada masa Majapahit yang memiliki kemampuan mengobati masyarakat. Karena keahlian tersebut, beliau juga dikenal sebagai seorang tabib pada zamannya.
Sebagian masyarakat juga meyakini kisah-kisah spiritual yang berkaitan dengan Mbah Mertoyudho. Menurut cerita yang berkembang, ada orang-orang yang menjalani laku tirakat dan mengaku memperoleh petunjuk mengenai sosok beliau. Namun kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat dan menjadi salah satu warisan budaya yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Melalui tradisi sedekah dan buka luwur setiap bulan Suro, masyarakat Desa Tumpangkrasak berharap nilai gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta pelestarian sejarah lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.




