• Jelajahi

    Copyright © LIPUTAN KUDUS
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menu Bawah

    Ketika 670 Orang Menari, Kudus Sedang Melawan Lupa

    Any Firgiyanti
    9/26/26, 08:56 WIB Last Updated 2026-09-26T01:58:09Z




    KUDUS. liputankudus.id.  26 September 2026 — Ada cara yang sederhana untuk menjaga sesuatu agar tidak hilang: terus menghidupinya.


    Di Pendapa Kabupaten Kudus, Sabtu (26/9/2026), 670 peserta menari bersama dalam Tari Lajur Caping Kalo. Gerak mereka menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus sekaligus pencatatan Rekor MURI.


    Namun hari itu sesungguhnya bukan hanya tentang rekor.

    Sebab rekor akan dicatat dalam angka, sementara kebudayaan harus hidup dalam ingatan.


    Ratusan peserta mengenakan busana khas dan caping kalo, lalu bergerak dalam satu irama. Dari panggung itu, sebuah pesan terasa jelas: Kudus tidak ingin warisan budayanya berhenti menjadi benda yang hanya dikenang, apalagi sekadar menjadi foto dalam album sejarah.


    Caping kalo adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Kudus. Ketika ia dikenakan dan diterjemahkan ke dalam gerak tari oleh 670 orang, simbol itu kembali menemukan ruangnya di tengah masyarakat.


    670 peserta menjadi angka yang akan dicatat MURI. Tetapi di balik angka itu ada sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian sebuah daerah untuk merawat apa yang menjadi miliknya sendiri.



    Pencatatan rekor tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha bersama istrinya serta Yayasan Bakti Sosial Nojorono.


    Giring mengaku takjub melihat perhatian masyarakat Kudus terhadap pelestarian budaya. Baginya, apa yang berlangsung di Pendapa Kudus menunjukkan bahwa kebudayaan masih mendapatkan tempat penting di tengah kehidupan masyarakat.


    “Saya sangat kagum bahwa di Kudus masyarakatnya sangat peduli dengan pelestarian dan budaya,” ujar Giring.


    Kalimat itu menemukan maknanya ketika melihat langsung ratusan orang berada dalam satu panggung, membawa simbol yang lahir dari kehidupan masyarakat sendiri.


    Karena budaya sebenarnya tidak mati karena kalah oleh zaman.

    Budaya mati ketika tidak lagi dipakai.

    Dan hari itu, Kudus memilih untuk memakainya kembali.


    Di balik upaya tersebut, ada pula sosok perempuan yang terus menjadi bagian dari gerakan pelestarian Tari Lajur Caping Kalo. Endhah Endayani, istri Bupati Kudus sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, menjadi salah satu pilar dalam mendorong agar tari tersebut tidak berhenti sebagai pertunjukan seremonial.


    Pelestarian budaya membutuhkan kerja yang panjang. Ia tidak selesai ketika panggung dibongkar, musik dimatikan, atau sertifikat rekor diserahkan.

    Ia harus diteruskan kepada anak-anak.

    Diajarkan kepada generasi muda.

    Dipentaskan kembali.


    Dan yang paling penting, dibuat tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.

    Di sinilah Tari Lajur Caping Kalo menemukan maknanya.

    Hari itu, Kudus memang sedang mengejar sebuah rekor.


    Tetapi sesungguhnya ada rekor lain yang jauh lebih sulit dicapai: bagaimana membuat generasi berikutnya masih mengenal, mencintai, dan bersedia melanjutkan budaya yang diwariskan para pendahulunya.


    Dukungan Yayasan Bakti Sosial Nojorono juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, keluarga, dan dunia usaha menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dikerjakan sendirian.

    Sebab menjaga kebudayaan bukan pekerjaan satu orang.


    Bukan pekerjaan satu lembaga.

    Dan bukan pula pekerjaan satu generasi.

    Rekor MURI mungkin akan menjadi catatan sejarah.

    Namun setelah hari ini berlalu, pertanyaan yang lebih penting tetap tinggal:


    Apakah Tari Lajur Caping Kalo akan terus menari ketika rekor itu sudah menjadi masa lalu?

    Jawabannya akan ditentukan oleh generasi Kudus sendiri.


    Sebab sebuah daerah tidak hanya dikenali dari bangunan, jalan, atau ekonominya.

    Sebuah daerah juga dikenali dari apa yang masih ia ingat.


    Dan pada 26 September 2026, di Pendapa Kudus, 670 orang memilih untuk mengingatnya dengan cara yang paling sederhana sekaligus paling kuat:


    mereka menari.


    #tari #capingkalo #kesenian #kebudayaan #rekor

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler